Logo Bloomberg Technoz

Industri keuangan global dalam posisi pengetatan hingga memicu aksi jual dalam jumlah masif. Pasar kini mengkhawatirkan data inflasi yang tetap tinggi di pusat ekonomi dunia, “mendorong investor untuk meninjau ulang ekspektasi terkait waktu dan besaran pemotongan suku bunga oleh bank sentral besar.”

Bagi Rudolph, “kripto, yang kerap jadi cerminan sentimen risiko secara luas, tak kuasa bertindak sebagai tempat berlindung seperti yang diharapkan oleh beberapa pedagang di pasar; sebaliknya, Bitcoin turun dengan cepat saat modal berpindah dari eksposur spekulatif ke aset yang dianggap lebih aman.”

Mike McGlone, analis dari Bloomberg Intelligence, bahkan memberi peringatan lebih pesimis bahwa tren pelemahan harga Bitcoin berpotensi mencapai US$10.000, efek dari tekanan ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat.

Mantra “buy the dip” yang telah mendukung aset berisiko sejak 2008 mungkin mulai runtuh seiring melemahnya aset digital dan pergeseran dinamika volatilitas, jelas McGlone dalam unggahan di media sosial X.

“Mantra ‘beli saat harga turun’ sejak 2008 mungkin sudah berakhir,” jelasnya, seperti dilaporkan CoinDesk. Pasar saham AS jadi titik fokus pelaku pasar hari ini dengan volatilitas 180 hari di S&P 500 dan Nasdaq 100 berada pada level terendah dalam sekitar 8 tahun.


Greg Magadini, direktur derivatif di Amberdata, dalam sebuah catatan berfokus pada pertaruhan apakah Bitcoin hari ini sudah mencapai titik terendah atau masih akan terus mengalami depresiasi di masa mendatang. Sentimen seputar kepemilikan aset digital di kas dan aliran dana masuk atau keluar dari ETF Bitcoin spot akan menjadi indikator kunci yang perlu diperhatikan, katanya.

(wep)

No more pages