Logo Bloomberg Technoz

Dari 24 perusahaan yang menjadi peserta tender WtE, delapan di antaranya berasal dari Prancis, China, dan Jepang. Berikut gambaran singkat mengenai delapan perusahaan tersebut.

1. Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd (Prancis)

Didirikan di Singapura pada 13 Desember 1997, Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd merupakan perusahaan berbentuk Private Company Limited by Shares atau Perusahaan Terbatas. Perusahaan ini tergabung di dalam grup multinasional Veolia asal Prancis yang bergerak di bidang pengelolaan air, limbah, dan energi.

Di Indonesia, perusahaan ini hadir melalui entitas bisnis bernama PT Veolia Services Indonesia. Perusahaan ini mendirikan pabrik daur ulang Polyethylene Terephthalate (PET) berkapasitas 25.000 ton per tahun di Kawasan Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan.

Pabrik ini memproduksi PET food grade yang sudah mendapatkan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Bersama PT Tirta Investama (Danone-AQUA), PT Veolia Services Indonesia berupaya menciptakan solusi pengurangan sampah plastik lewat pabrik yang diresmikan oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada akhir Juni 2021 lalu.

2.Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering atau MHIECE (Jepang)

MHIECE merupakan pemain lama dalam proyek lingkungan dan energi bersih. Jejak anak perusahaannya sudah dikenal di Singapura untuk proyek WTE, yakni di Tuas South.

Proyek senilai US$750 juta yang dikenal dengan TuasOne Waste to Energy Plant Project itu jadi contoh nyata bagi sejumlah tempat yang baru memulai program pengolahan sampah menjadi energi, termasuk Indonesia.

Tak hanya di Singapura, MHIECE di Tiongkok juga mengembangkan proyek Lao Gang fase kedua di Shanghai. Proyek WTE terbesar di dunia itu memakan nilai investasi hingga ¥11 miliar untuk mengolah 6.000 ton sampah per hari menjadi 144 Megawatt (MW) listrik.

Sementara itu, Indonesia sudah memanfaatkan mesin pengolah sampah yang diproduksi MHIECE dengan kapasitas 100 ton per hari di TPST Bantargebang, Jawa Barat sejak 2019 silam untuk menghasilkan 750 Kilowatt per hour (KWh).

Gedung Wisma Danantara Indonesia di jalan Jend. Gatot Subroto, Minggu (29/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

3. China Conch Venture Holding Limited (China)

Berdiri sejak 2013, perusahaan yang berasal dari Wuhu, China itu terfokus pada sektor pelestarian energi, perlindungan lingkungan, serta pembangunan infrastruktur.

Berdasarkan catatan Danantara, China Conch Venture Holding Limited memiliki lima bidang usaha utama, yakni WtE, jasa logistik pelabuhan, material bangunan baru, energi baru, serta investasi dan aset strategis.

China Conch Venture Holding Limited pun menjadikan bisnis WtE sebagai segmen utama mereka. Termasuk, solusi insinerasi limbah atau pembakaran yang bertujuan mengubah sampah menjadi energi, pengolahan limbah padat untuk menghasilkan panas dan listrik, serta produksi dan penjualan peralatan pembangkit energi sisa panas.

China Conch Venture Holding Limited diketahui pernah menjalin kerja sama dengan perusahaan di Indonesia. Salah satunya dengan PT Conch South Kalimantan Cement (PT CSKC), perusahaan yang juga bernaung di bawah Anhui Conch Group Co., Ltd.

4. Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd. (China)

Perusahaan ini hadir sebagai spesialis WtE dengan rekam jejak sebagai investor, pengembang, sekaligus operator fasilitas pembangkit listrik tenaga sampah. Berbeda dengan kontraktor EPC (Engineering Procurement Construction) umum yang memiliki divisi lingkungan, Sanfeng Environment sejak awal menempatkan WtE sebagai inti bisnis.

Perusahaan yang berdiri pada 2009 dan berkantor pusat di Chongqing, China, ini telah tercatat sebagai perusahaan publik di Bursa Saham Shanghai dengan kode saham 601827.SH.

Sanfeng Environment dikenal sebagai pemegang lisensi teknologi grate incinerator dari Martin GmbH (Jerman). Teknologi ini kemudian dilokalisasi dan dikembangkan hingga mampu memproduksi sendiri peralatan inti WtE, mulai dari tungku pembakaran, pemurnian gas buang, hingga pengolahan residu.

Hingga akhir 2023, teknologi dan peralatan Sanfeng telah diterapkan di lebih dari 250 proyek WtE dengan lebih dari 400 lini insinerasi di berbagai negara, berkapasitas total lebih dari 220.000 ton sampah per hari.

Selain sebagai penyedia teknologi, Sanfeng Environment juga berperan sebagai investor dan operator proyek melalui skema BOT (build, operate, dan transfer) dan PPP (Public Private Partnership), dengan lebih dari 50 proyek WtE yang telah beroperasi atau dalam tahap konstruksi. Model terintegrasi ini memungkinkan pengendalian kualitas, efisiensi biaya, serta kepastian kinerja fasilitas jangka panjang.

5. Wangneng Environment Co., Ltd (China)

Wangneng Environment Co., Ltd merupakan perusahaan asal China dengan kantor pusatnya di Huzhou, Zhejiang. Mulai beroperasi pada 2012 dibidang pemanfaatan sumber daya limbah dapur, pengolahan air limbah, pengolahan lumpur, hingga daur ulang karet.

Perusahaan ini mengubah limbah, terutama limbah padat, menjadi energi (listrik atau panas) melalui berbagai proses, seperti pembakaran, gasifikasi, atau bioteknologi.

Beberapa proyek yang telah dilakukan Wangneng Environment dalam bidang WtE melibatkan instalasi pabrik pengolahan limbah. Mereka mengklaim mampu menghasilkan 3,04 miliar kWh listrik bersih dihasilkan setiap tahun. Dengan pemakaian listrik rata-rata rumah kecil menengah di Indonesia, output ini bisa digunakan untuk 2.530.000 rumah per tahun.

6. Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd (China)

Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd bukan pemain baru di Indonesia. Melalui anak perusahaannya, Weiming Equipment, menandatangani kontrak penyediaan peralatan insenerator WtE dengan perusahaan Indonesia (Shanghai Dingxin Investment/Qingshan Park). Ini adalah kolaborasi di bidang ekspor teknologi lingkungan.

Selama ini, mereka dikenal sebagai pemain utama dalam teknologi dan operasi WtE di China. Bisnis WtE mereka mencakup desain, investasi, pembangunan, dan operasi fasilitas WtE, manufaktur dan pemasangan peralatan insenerator dan tenaga WtE, serta pengolahan sampah padat perkotaan (MSW) dengan pembangkit listrik dari limbah.

Pada 2023, Weiming Environment menghasilkan total listrik sekitar 3,85 miliar kWh listrik dari operasi mereka, terutama dari pembangkit WtE. Perusahaan ini pernah menawarkan kerja sama investasi sekitar US$225 juta kepada pemerintah Provinsi Bali untuk pengelolaan sampah dan BOO WtE melalui Weiming Environment Protection.

7. SUS Indonesia Holding Limited (China)

Meski bernama SUS Indonesia Holding Limited, kenyataannya perusahaan ini terdaftar di China. Perusahaan yang mulai beroperasi pada 19 Juli 2022, memiliki fokus bisnis pada WtE dan mengelola investasi jangka panjang. Alasan perusahaan ini memilih pasar Indonesia karena alasan utama, yakni volume sampah kota sangat besar, keterbatasan tempat pembuangan akhir, dan kebutuhan energi bersih yang meningkat.

Shanghai SUS Environment Co., Ltd yang berdiri tahun 2008 di Qingpu District, Shanghai, China adalah perusahaan induk SUS Indonesia Holding Limited membidik kerja sama dengan pemerintah daerah, BUMD, dan mitra swasta Indonesia.

Sejauh ini terdapat 84-89 proyek WtE yang sudah dijalankan di sejumlah negara. Di Makassar, Sulawesi Selatan, perusahaan tersebut membangun fasilitas WtE dengan perjanjian kerja sama lewat pemkot setempat. Volume sampah yang dikelola sebanyak 1.300 ton sampah setiap hari, dengan dua jalur insinerasi dan turbine generator yang menghasilkan daya listrik 35 MW.

8. PT Jinjiang Environment Indonesia (China)

PT Jinjiang Environment Indonesia merupakan bagian dari grup perusahaan lingkungan asal China, yakni Zheneng Jinjiang Environment Holding Co., Ltd., grup usaha yang menjadi pemain utama dalam industri WtE di China sejak 1998. Perusahaan ini berdiri pada 8 Agustus 2017.

Pada 16 Februari 2025, Zheneng Jinjiang Environment Holding Co., Ltd. menyelesaikan restrukturisasi internal PT Jinjiang Environment Indonesia. Sebelumnya, 90% kepemilikan saham perusahaan itu dipegang oleh Lamoon Holdings Limited di British Virgin Islands.

PT Jinjiang Environment Indonesia sudah memiliki proyek besar dengan mengembangkan fasilitas WtE di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Kapasitas yang dihasilkan sebanyak 1.000 ton sampah perhari dengan output listrik sebesar 20 MW.

Di Palembang, perusahaan ini membangun kolaborasi dengan perusahaan lokal dengan membentuk Build Own Operate atau BOO melalui kontrak konsesi 30 tahun. Investasi awal untuk pembangunan PLTsa di Palembang, perusahaan ini mengucurkan dana US$120 juta atau setara dengan Rp1,8 triliun.

Fokus utama bisnis dari perusahaan ini di bidang WtE, yakni pengolahan limbah padat menjadi energi listrik. Sementara China Jinjiang Environment Holding Co yang merupakan induk dari PT Jinjiang Environment Indonesia, diketahui memegang 27 fasilitas WtE di Tiongkok. Mereka juga memiliki tiga fasilitas pengolahan limbah dapur atau organic waste dan delapan fasilitas daur ulang sumber daya limbah dengan total kapasitas pengolahan 44.000 ton limbah per hari.

(dhf)

No more pages