Logo Bloomberg Technoz

Chief Economist & Macro Strategist BRIDS, Helmy Kristanto, menjelaskan bahwa volatilitas pasar yang tinggi pada 2026 tidak dapat dilepaskan dari pergerakan siklus ekonomi yang sedang berlangsung.

Kenapa tahun ini begitu volatile? Jadi memang dari sisi ekonomi saya melihat berbagai macam siklus, economic cycle dan business cycle. Kalau dikaitkan dengan tema besar tahun ini, Kuda Api, biasanya akan ada implikasi terhadap economic decision. Tahun ini bisa dibaca sebagai tahun yang benar-benar dinamis, dan namanya dinamika itu adalah volatility. Justru volatility ini akan coba kita manfaatkan,” ujar Helmy, Jumat (13/2/2026).

Dia menambahkan tema Tahun Kuda Api relevan untuk menggambarkan karakter 2026 sebagai periode perubahan cepat, dengan kekuatan dorongan yang tinggi namun menuntut disiplin dalam pengambilan keputusan.

“Kalau kita lihat dalam konteks 2026, tema yang kita angkat adalah tahun transformasi, dari policy menjadi impact,” katanya.

Dari sisi global, Helmy memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diperkirakan masih melandai. Meski demikian, probabilitas resesi dinilai lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. 

Risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan tetap menjadi faktor dominan sejak 2022, tetapi pasar dinilai mulai beradaptasi.

“Sejak 2022, faktor geopolitik terus menjadi dominan. Risiko geopolitik dan policy uncertainty itu sulit untuk hilang, tetapi dampaknya ke market sekarang cenderung lebih pendek. Market mulai memandang hal ini sebagai sesuatu yang rutin terjadi,” ujarnya.

Dia menjelaskan lonjakan inflasi global pasca-2022 mendorong bank sentral di berbagai negara menaikkan suku bunga secara agresif, yang kemudian menekan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan risiko resesi. Namun sejak 2023, bank sentral mulai melakukan rasionalisasi kebijakan.

“Sekarang probabilitas resesi global sudah turun ke sekitar 30%. Pertumbuhannya memang moderat, tetapi tidak ada global shock yang lebih tajam,” kata Helmy.

Menurutnya, berbeda dengan periode awal konflik geopolitik seperti perang Rusia–Ukraina yang berdampak panjang terhadap pasar obligasi dan yield, dalam beberapa tahun terakhir dampak geopolitik terhadap pasar keuangan cenderung berlangsung lebih singkat.

“Kalau risiko meningkat tapi market sudah memandang itu sebagai sesuatu yang berulang, biasanya dampaknya justru lebih rendah,” ujarnya.

Dalam konteks domestik, Helmy menyoroti kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai unik sebagai negara dengan populasi besar, namun mengalami tekanan pada kelas menengah dalam dua tahun terakhir. 

Penurunan jumlah kelas menengah dan meningkatnya kelompok calon kelas menengah turut memengaruhi daya beli masyarakat.

“Dua tahun terakhir kita banyak mendengar soal pelemahan daya beli. Middle class turun, sementara aspiring middle class meningkat,” katanya.

Namun, data terbaru menunjukkan adanya perbaikan pada paruh akhir 2025. Helmy mencatat bahwa pada kuartal keempat, sejumlah indikator mulai bergerak positif.

“Di kuartal keempat, kita mulai melihat pembalikan arah. Consumer confidence rebound, saving mulai meningkat, dan pertumbuhan konsumsi kembali mendekati 5%,” ujarnya.

Dia juga menyinggung hasil survei Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan perubahan pola pengeluaran rumah tangga.

Meski porsi konsumsi sempat meningkat, porsi tabungan yang sebelumnya turun mulai menunjukkan perbaikan seiring naiknya pendapatan masyarakat.

“Kalau konsumsi terlihat turun, itu bukan semata karena konsumsi melemah, tetapi karena pendapatan yang mulai naik,” katanya.

Selain itu, indikator ekonomi riil juga menunjukkan tren positif, mulai dari penjualan ritel, kendaraan bermotor, semen, hingga alat berat. Data penjualan kendaraan dan semen pada akhir 2025 tercatat mulai rebound, sejalan dengan perbaikan likuiditas dan belanja fiskal pemerintah.

Money supply mulai membaik, fiscal spending pemerintah meningkat, dan ini menciptakan momentum,” ujar Helmy.

Pasar Modal

Di sektor pasar modal, Helmy menyoroti dinamika kepemimpinan saham (market leadership) yang semakin terkonsentrasi. Pada 2025, kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai ditopang oleh kontribusi terbatas dari sejumlah emiten berkapitalisasi besar.

“Kenaikan IHSG tahun lalu sangat terkonsentrasi. Dari top 10 saham, kontribusinya sangat besar, bahkan top 3 sudah mendekati dua pertiga,” ujarnya.

Kondisi tersebut berbeda dengan tren sebelumnya yang menunjukkan kepemimpinan pasar lebih luas. Helmy juga menyinggung berbagai penyesuaian struktural yang tengah berlangsung, termasuk isu free float, transparansi, tata kelola, serta respons pasar terhadap evaluasi lembaga pemeringkat internasional.

Market kita sedang mengalami penyesuaian yang besar, dan ini belum sepenuhnya selesai,” katanya.

Meski demikian, Helmy menilai respons pasar terhadap isu-isu eksternal cenderung lebih tenang dibandingkan periode sebelumnya, terutama jika fundamental ekonomi domestik tetap terjaga.

(art/wdh)

No more pages