Selain dua proyek tersebut, Danantara akan mulai mengembangkan fasilitas caustic soda. Proyek yang digadang-gadang untuk mendukung hilirisasi ini memakan nilai investasi sebesar Rp13,4 triliun.
Kemudian, ada pula proyek pengembangan pusat data atau data center bersama operator global dengan investasi yang dikucurkan mencapai Rp21 triliun.
Terakhir, Danantara juga berencana mengembangkan proyek dengan Australia di bidang agrikultur. Rencana kerja sama dengan perusahaan Australia untuk membangun industri agrikultur Indonesia tersebut memiliki nilai investasi sama dengan WtE yaitu Rp84 triliun.
Di sisi lain, Rosan menyampaikan investasi berperan penting dalam mendorong target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029.
Pada 2025, realisasi investasi mencapai 101,3% dari target Rp1.931,2 triliun atau sekitar US$120 miliar, tumbuh 12,7% secara tahunan dan menyerap 2,7 juta tenaga kerja. Porsi penanaman modal asing (PMA) tercatat sekitar 46,69%.
Danantara juga menjalin sejumlah kemitraan internasional, antara lain dengan China Investment Corporation dan Japan Bank for International Cooperation masing-masing senilai US$1 miliar, serta komitmen investasi dari Qatar dan mitra lainnya yang secara total berpotensi mencapai sekitar US$10 miliar.
Danantara juga telah memperoleh peringkat BBB outlook stabil dari Pefindo dan Fitch Ratings, serta tengah dalam proses pemeringkatan oleh S&P Global Ratings dan Moody's Investors Service.
(art/wdh)





























