Logo Bloomberg Technoz

Pada dasarnya, terang dia, Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) berperan sebagai katalis dan instrumen countercyclical untuk mendorong pertumbuhan melalui program unggulan, perlindungan sosial yang tepat sasaran, dukungan dunia usaha, optimalisasi penerimaan negara, dan disiplin fiskal. 

"Jadi kita sedikit mengorbankan fiskal dalam sisi defisit, dari 2,5% ke arah 2,9%. Itu adalah program countercyclical yang kita kerjakan untuk membalik ekonomi dari yang turun sekarang jadi mulai naik," ungkap dia.

Kendati demikian, dia mengklaim akan melakukan strategi tersebut tanpa mengorbankan kehati-hatian fiskal. Pasalnya, pemerintah juga harus menjaga level rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) tak lebih dari 3%.

Dalam kesempatan yang sama, Purbaya meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai kisaran 5,5%-6% pada kuartal I-2026. Hal ini bisa terwujud dengan strategi membalikkan arah ekonomi, disertai strategi fiskal yang tetap terjaga.

"Itu seperti angka biasa ya (5,5%-6%), tapi ini angka yang luar biasa. Karena kalau ini terjadi, berarti kita sudah keluar dari kutukan pertumbuhan 5%," ujar Purbaya.

Dia menilai momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat pada 2025 akan terus berlanjut hingga tahun ini. Hal tersebut bisa dicapai jika seluruh pemangku kepentingan benar-benar berupaya memperbaiki pondasi perekonomian secara konsisten.

Dia mengaku akan mengusung paradigma baru untuk mengelola ekonomi Indonesia, yakni dengan prinsip pro-pertumbuhan dan pro-rakyat. Sesuai tiga prinsip sumitronomics, yaitu mengelola pertumbuhan ekonomi yang tinggi, mencapai pemerataan kesejahteraan rakyat, dan menjaga stabilitas nasional.

"Kerangga kebijakan ini membutuhkan sinergitas lembaga, terutama koordinasi fiskal-moneter, termasuk dengan optimalisasi peran Danantara," tegas Purbaya.

(lav)

No more pages