Sebelumnya BPI Danantara melakukan langkah efisiensi dan konsolidasi untuk menekan potensi kerugian di lingkungan anak usaha BUMN yang nilainya diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah per tahun.
Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria menyampaikan, potensi kerugian tersebut berasal dari kerugian langsung yang tercatat dalam laporan keuangan anak usaha serta kerugian tidak langsung akibat struktur usaha berlapis.
Dony menjelaskan, kerugian langsung anak usaha BUMN sekitar Rp20 triliun per tahun. Sementara kerugian tidak langsung timbul karena entitas yang merugi umumnya merupakan anak perusahaan, bukan induk, sehingga memunculkan layering transaction dan inefisiensi operasional.
Menurut Dony, kerugian tidak langsung tersebut dapat menambah sekitar Rp30 triliun. Namun dampak keseluruhan diperkirakan tidak sepenuhnya mencapai Rp50 triliun dan bisa berada di kisaran Rp30 triliun.
Untuk menekan inefisiensi itu, Danantara menjalankan program konsolidasi melalui merger, penutupan, dan penataan ulang struktur bisnis anak usaha BUMN.
Langkah tersebut dilakukan guna menghilangkan kerugian struktural dengan biaya tenaga kerja yang relatif terbatas.
Sepanjang tahun lalu, Danantara menyelesaikan 21 persoalan yang dinilai mendesak, termasuk penataan di sektor gula, restrukturisasi BUMN karya, Krakatau Steel, serta Garuda Indonesia dan Citilink.
Dalam proses transformasi BUMN Karya, Dony menyebut penyehatan dilakukan melalui penyesuaian nilai aset (impairment), pengurangan anak usaha non-inti, dan penurunan beban utang secara bertahap.
Tahun lalu, langkah awal difokuskan pada impairment pembukuan, dilanjutkan dengan pengurangan entitas non-core dan penurunan utang, sementara tahun ini proses diarahkan pada penurunan utang BUMN Karya secara lebih lanjut.
(art/naw)





























