Logo Bloomberg Technoz

Secara teknis, penerapan green building berpotensi mengurangi konsumsi energi lebih dari 50 persen. Efisiensi ini dicapai melalui desain bangunan yang optimal, pemanfaatan pencahayaan alami, sistem pendingin hemat energi, serta penggunaan material berkelanjutan. 

Pengurangan konsumsi energi otomatis berdampak pada penurunan emisi gas rumah kaca, sekaligus memangkas biaya operasional jangka panjang.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumawati menegaskan bahwa sektor bangunan memegang peran penting dalam upaya dekarbonisasi. 

Menurutnya, model kolaboratif antara pemerintah, swasta, dan mitra internasional menunjukkan bahwa transformasi menuju bangunan rendah emisi dapat terwujud jika dilakukan secara bersama. 

“Pendekatan ini kini diperkuat melalui berbagai inisiatif, termasuk kerja sama dengan mitra global untuk mempercepat transisi energi berkelanjutan,” ujarnya.

Namun, tantangan masih besar. Data Green Building Council Indonesia (GBC Indonesia) mencatat kurang dari 100 bangunan hijau terdaftar hingga akhir 2024. 

Jumlah ini tertinggal dibandingkan negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Hambatan regulasi dan tingginya biaya konstruksi awal sering menjadi alasan lambatnya adopsi konsep ini.

Meski demikian, arah kebijakan nasional sudah semakin jelas. Pemerintah menargetkan transformasi dari Bangunan Gedung Hijau (BGH) menuju Bangunan Gedung Cerdas (BGC), hingga akhirnya mencapai Bangunan Gedung Nol Emisi atau Net Zero Emission pada 2060. 

Target ini membuka ruang inovasi bagi pengembang properti, investor, penyedia teknologi, hingga konsultan energi.

Bagi pelaku usaha, green building bukan lagi sekadar citra ramah lingkungan, melainkan strategi bisnis jangka panjang. 

Permintaan pasar terhadap bangunan berkelanjutan terus meningkat, terutama dari perusahaan global yang memiliki komitmen ESG (Environmental, Social, and Governance). 

Bangunan yang efisien energi juga dinilai memiliki nilai aset lebih stabil dan risiko operasional lebih rendah.

Dengan potensi investasi mencapai USD 29,4 triliun di tingkat global, sektor bangunan hijau menjadi peluang strategis yang tak boleh terlewatkan. 

Jika didukung regulasi yang kuat, insentif fiskal, serta kolaborasi lintas sektor, Indonesia berpeluang memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat ekonomi sekaligus menekan dampak perubahan iklim. 

Green building pada akhirnya bukan hanya tentang bangunan yang lebih hemat energi, tetapi tentang fondasi masa depan pembangunan yang berkelanjutan.

(tim)

No more pages