Logo Bloomberg Technoz

Potensi Investasi USD 29,4 T, Mengapa Green Building Menarik?


(Dok. Unsplash)
(Dok. Unsplash)

Bloomberg Technoz, JakartaBangunan hijau Indonesia didukung GBPN (Green Building Performance Network) sebagai bagian dari inisiatif percepatan efisiensi energi nasional yang kini semakin mendapat sorotan. Langkah ini tidak hanya menempatkan sektor bangunan sebagai prioritas dalam agenda iklim, tetapi juga membuka peluang ekonomi bernilai besar di tengah dorongan transisi menuju pembangunan rendah karbon.

Upaya mendorong bangunan hijau atau green building di Indonesia bukan sekadar agenda lingkungan, melainkan peluang ekonomi bernilai besar. Dikutip dari portal informasi digital surat-indonesia.com, analisis International Finance Corporation (IFC) pada 2018 menunjukkan bahwa bangunan hijau mencakup 80 persen dari potensi investasi iklim senilai USD 29,4 triliun di enam sektor perkotaan negara berkembang hingga 2030, termasuk Jakarta. 

Angka tersebut menempatkan sektor bangunan sebagai salah satu kunci dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon.


Di Indonesia, peluang ini semakin relevan seiring meningkatnya kebutuhan pembangunan gedung perkantoran, hunian, hingga kawasan terpadu seperti Ibu Kota Nusantara (IKN). 

Konsep forest city yang ditekankan Presiden Joko Widodo dalam sejumlah proyek di IKN menggarisbawahi pentingnya bangunan yang hemat energi dan ramah lingkungan sebagai standar baru pembangunan nasional.