Logo Bloomberg Technoz

“Di perbankan, outstanding kredit sekitar Rp8.000 [triliun], kalau naik 10% saja sekitar Rp800 [triliun] kontribusinya untuk investasi. Kemudian fiskal, dan tentu saja juga tidak cukup dari situ, kita juga memerlukan direct investment, baik itu dari dalam negeri maupun dari luar negeri,” ucap Juda Agung. 

Adies Kadir dan Juda Agung dilantik oleh Presiden Prabowo, Kamis (5/2/2026). (Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden)

Untuk mendukung iklim investasi, Juda menyebut Kemenkeu telah membuat kanal debottlenecking guna menyelesaikan masalah investasi yang menghambat aktivitas perekonomian. Hingga saat ini sudah terdapat 81 laporan, 46 di antaranya sudah diselesaikan.

“Ini adalah langkah konkret untuk mengatasi masalah-masalah yang terkait dengan iklim dunia usaha yang pada akhirnya akan mendorong iklim investasi ya, di sektor ril itu yang kita lakukan,” terang Juda Agung. 

Sementara itu, untuk kebijakan moneter pihaknya akan menurunkan cost of capital melalui suku bunga yang rendah. Langkah yang dimaksud dilakukan untuk menjaga kecukupan likuiditas di sektor perbankan. Tujuannya agar tercipta pembiayaan lebih efisien, dan akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

“Jadi dua itu, likuiditas dan suku bunga dengan Bank Indonesia, itu fokusnya adalah ke situ,” tegas Juda Agung. 

Target Pertumbuhan Ekonomi 5,6%

Gambaran pergerakan masyarakat di kota Jakarta. Dok: Bloomberg

Adapun, pemerintah menargetkan ekonomi pada kuartal I-2026 bisa tumbuh ke level 5,6% secara tahunan atau year on year (yoy), dari target titik acuan atau baseline pada tiga bulan pertama tahun ini di level 5,5%.

Guna mengejar target pertumbuhan yang makin jauh lebih tinggi dari realisasi kuartal keempat 2025 sebesar 5,39% yoy, Juda memastikan pemerintah akan mempercepat belanja negara di awal tahun.

Ia manambahkan bahwa aspek belanja penting dilakukan guna mendongkrak pertumbuhan awal tahun, apalagi jika menilik laporan di awal kuartal  2025 yang hanya tumbuh 4,87%, atau lebih lambat secara yoy di 5,11%. Dipicu oleh belanja pemerintah awal tahun yang biasanya memang cenderung lambat.

"Dengan beberapa pengeluaran yang memang bisa dilakukan di kuartal pertama ini. Ya, ada beberapa pengeluaran yang biasanya lambat, ya kita dorong cepat, gitu," kata Juda Agung. Salah satu pengeluaran yang akan dipercepat kata ialah belanja bantuan sosial alias bansos untuk mendukung konsumsi masyarakat.

(mfd/wep)

No more pages