Logo Bloomberg Technoz

Gita mengungkapkan ketidakpastian persetujuan RKAB 2026 berpotensi menimbulkan konflik dengan pembeli serta vendor yang sudah berkomitmen dengan perusahaan.

“Saat ini perusahaan sedang fokus dengan pemotongan RKAB yang signifikan, karena hal ini akan sangat berpotensi menimbulkan konflik dengan pembeli serta vendor yang sudah berkomitmen,” tegas dia.

Pada kesempatan terpisah, Gita mengatakan kenaikan porsi DMO bersamaan dengan pemangkasan kuota produksi batu bara tahun ini bakal ikut menggerus porsi ekspor nantinya.

“Ruang ekspor industri akan menyempit secara nyata, padahal ekspor masih menjadi sumber utama pendapatan industri dan devisa negara,” kata Gita, Sabtu (7/2/2026).

Apalagi, Gita menambahkan, harga batu bara DMO relatif tidak kompetitif apabila dibandingkan dengan pasar ekspor. Situasi itu, dia menggarisbawahi, bakal menekan arus kas perusahaan tambang batu bara.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor batu bara terkoreksi 3,66% ke level 390,93 juta ton sepanjang Januari—Desember 2025, lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 405,76 juta ton.

Berdasarkan nilainya, kinerja ekspor batu bara sepanjang 2025 turun 19,7% ke level US$24,48 miliar atau sekitar Rp411,14 triliun (asumsi kurs Rp16.795 per dolar AS).

Torehan kinerja ekspor batu bara tahun lalu terpaut lebar dari capaian sepanjang 2024 di level US$30,49 miliar atau sekitar Rp512,07 triliun.

Adapun, Kementerian ESDM mencatat realisasi produksi batu bara nasional sepanjang 2025 mencapai 790 juta ton, anjlok 5,5% dari capaian sepanjang 2024 sejumlah 836 juta ton.

Sebagian besar produksi itu disalurkan untuk pasar ekspor, yaitu sekitar 514 juta ton atau 65,1% dari total produksi. Sementara itu, realisasi penyaluran batu bara untuk pasar domestik mencapai 254 juta ton atau 32%.

Sebelumnya, Kementerian ESDM bersiap mengkerek persentase wajib pasok domestik atau DMO batu bara menjadi lebih dari 30% dari sebelumnya sebesar 25%.

Hal itu dilakukan menyusul rencana pemangkasan produksi batu bara menjadi sekitar 600 juta ton dalam RKAB 2026 dari realisasi produksi 2025 sebanyak 790 juta ton.

“Kita perhatikan, kita hitung dari dulu. Range-nya itu ya mungkin bisa lebih dari 30%,” kata Yuliot ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (6/2/2026).

Yuliot memastikan porsi DMO batu bara yang ditetapkan akan disesuaikan dengan kebutuhan industri dalam negeri.

“Dari sisi presentasi DMO pasti naik. Jadi, kan kalau kemarin itu kan DMO itu sekitar 23%—24%. Dengan adanya penurunan produksi, presentasi DMO pasti akan jadi peningkatan,” ujarnya.

(azr/wdh)

No more pages