Meutya selanjutnya menilai peran pers semakin krusial di era transformasi digital. “Dalam gelombang transformasi digital dan AI, kehadiran pers yang kredibel dan mandiri bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan dasar demokrasi,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga menerbitkan Perpres Nomor 32 Tahun 2024 tentang Hak Penerbit yang mewajibkan platform digital bertanggung jawab terhadap konten jurnalistik. “Pemerintah menegaskan tata kelola AI harus human-centric dan jurnalistik harus tetap humanis demi menjaga kepercayaan publik,” tegasnya.
Menkomdigi juga menyoroti tiga peran penting media dalam mendukung kebijakan tersebut, yakni sebagai edukator publik, penguat norma sosial dan etika digital, serta pelaku praktik pemberitaan yang melindungi kelompok rentan, khususnya anak-anak, tanpa mengekspos data pribadi korban.
Guna memperkuat kolaborasi, pemerintah mendorong sinergi antara jurnalisme berkualitas dan literasi keselamatan digital, penguatan pedoman redaksional dalam peliputan isu sensitif, serta mekanisme kerja sama cepat antara media, platform digital, dan pemangku kepentingan dalam menangani konten berbahaya.
“Kita memerlukan pendekatan yang proporsional: melindungi masyarakat, menjaga ruang berekspresi, dan memastikan platform memenuhi kewajiban tata kelola yang baik,” tegas Meutya.
“Pers yang sehat melahirkan masyarakat yang cerdas, masyarakat yang cerdas memperkuat ekonomi yang berdaulat, dan ekonomi yang berdaulat membuat bangsa semakin kuat,” tutupnya.
Efek adopsi AI di industri, perusahaan media kawakan pangkas jurnalis
Di dunia transformasi bisnis industri media terus berlangsung, terlebih dengan meningkatnya peran teknologi AI. Salah satu perusahaan media ternama, Associated Press (AP), kini menolak disebut sebagai perusahaan yang berbisis surat kabar.
“Kami bukan perusahaan surat kabar dan sudah lama tidak demikian,” ujar Editor Eksekutif AP Julie Pace dikutip dari Fortune. Dan, sebagai upaya adaptasi dan transformasi, AP pada awal April mulai menawarkan skema buyout atau pengunduran diri secara sukarela kepada lebih dari 120 jurnalis.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi AP untuk mengurangi ketergantungan pada bisnis media cetak dan beralih ke model jurnalistik berbasis digital dan visual.
Serikat pekerja yang mewakili jurnalis AP menyebut lebih dari 120 staf menerima tawaran kompensasi tersebut. Manajemen AP menegaskan langkah ini dilakukan sebagai bagian dari adaptasi arah bisnis dengan konsumsi media yang kini semakin digital. Tak hanya itu, perusahaan juga mulai memperluas sumber pendapatan dari perusahaan teknologi, termasuk yang berinvestasi dalam AI.
Dalam laporan yang sama, di beberapa tahun terakhir kontribusi pendapatan dari perusahaan surat kabar AP terus menurun. Kini, segmen tersebut hanya menyumbang sekitar 10% dari total pendapatan, turun signifikan seiring melemahnya industri media cetak.
Sebagai gantinya, AP meningkatkan fokus pada jurnalisme visual dan digital. Perusahaan bahkan telah menggandakan jumlah jurnalis video di Amerika Serikat sejak 2022, serta memperluas kerja sama dengan perusahaan teknologi.
*) Artikel ini mendapatkan pembaruan berupa kabar transformasi bisnis AP di era AI dengan membuat penawaran pensiun dini para jurnalis mereka.
- Dengan asistensi Whery Enggo Prayogi dan Merinda Faradianti
(dec)






























