Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyampaikan "duka mendalam" atas tragedi ini, sementara Presiden Asif Ali Zardari menegaskan bahwa "menargetkan warga sipil yang tidak bersalah adalah kejahatan terhadap kemanusiaan."
Seorang saksi mata menggambarkan kengerian saat ledakan terjadi, menyatakan bahwa ia "kehilangan kesadaran" sesaat setelah dentuman, sementara saksi lain melihat jenazah "tergeletak di mana-mana."
Saat mengumumkan penangkapan pada hari Sabtu, Naqvi menuduh India mendanai para pelaku dan memberikan target serangan. Menanggapi hal ini, Kementerian Luar Negeri India mengutuk pengeboman tersebut namun menolak keras tuduhan keterlibatan mereka dan menyebutnya sebagai pernyataan yang "tidak berdasar".
Di sisi lain, Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, mengisyaratkan adanya keterlibatan pihak Afghanistan. Pemerintah Taliban di Afghanistan menyebut komentar Asif "sangat disesalkan" karena melontarkan tuduhan "tanpa menyertakan bukti yang kredibel."
Menanggapi situasi ini, Naqvi berjanji akan meningkatkan keamanan di Islamabad, termasuk merekrut ribuan petugas polisi baru dan memperbarui sistem keamanan pintar (smart security systems).
Meskipun serangan terbilang jarang terjadi di Islamabad, insiden ini merupakan yang kedua dalam beberapa bulan terakhir setelah serangan pada November lalu yang menewaskan 12 orang.
Tragedi Jumat ini terjadi setelah pekan berdarah di wilayah lain. Sebanyak 58 warga sipil tewas dalam serangan terkoordinasi di provinsi Balochistan. Kelompok Tentara Pembebasan Balochistan (BLA) mengklaim sebagai dalang serangan tersebut. Sebagai respons, militer Pakistan menyatakan telah menewaskan lebih dari 200 militan dalam operasi balasan di wilayah yang telah dilanda pemberontakan selama puluhan tahun itu.
(red/del)





























