"Kami melakukan stress test. Intinya permodalan kita masih sangat tinggi. Melihat indikator ini, dibanding peer di ASEAN kita masih aman," ujar Alexander dalam acara Editor's Briefing di Pontianak, Jumat (7/2/2026).
Dia menjelaskan bahwa hal ini tercermin dari rasio kecukupan modal (CAR) yang masih berada di level 26%, juga alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) yang masih tetap terjaga di level 28%. Jikapun ada variabel yang perlu diperhatikan ialah terkait risiko kredit, namun levelnya masih jauh dari indikator berbahaya.
Alexander menyampaikan, berdasarkan data indikator yang digunakan BI, sampai saat ini bank sentral masih mengarah pada prinsip pro-pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, masih terdapat sejumlah variabel yang perlu terus didorong, misalnya pertumbuhan kredit yang masih berada di bawah level optimal.
"Penilaian BI tetap data dependen (bergantung pada data indikator ekonomi). Sampai saat ini, semua variabel masih mengarah pada stance pro-growth," kata dia. "So far dari indikator kami belum menunjukan bahwa harus mengganti stance. karena semua variabel ini masih perlu kita dorong."
Dia menggambarkan, banyak program pemerintah yang dapat diutilisasi untuk mempercepat pertumbuhan kredit, dan akhirnya mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
"Sejauh ini belum membuat kita keluar dari range itu. Apakah bisa berubah lagi? bisa saja, tapi data dependen. Sejauh datanya tidak memaksa kita dengan cepat, kita juga harus bisa adaptif untuk menjaga stabilitas," tutur dia.
Melansir data Bloomberg, yield tenor 1 tahun naik 3,7 basispoin (bps) dan hampir dibanderol 5%. Sementara yield tenor 2 tahun naik 4 bps ke 5,08% dan tenor 3 tahun 2,6 bps ke 5,4%. Kenaikan yield tertinggi terjadi pada tenor 4 tahun dan 5 tahun, masing-masing naik 8,7 bps ke 5,8% dan 11 bps ke 5,78%.
Menurut laporan tim riset Bloomberg Technoz, aksi jual tersebut merupakan akumulasi respons pasar terhadap sentimen yang menimpa pasar domestik dalam dua pekan terakhir. Belum reda efek peringatan dari MSCI meski otoritas keuangan melakukan langkah-langkah taktis, setelah Goldman Sach dan UBS menurunkan peringkat bursa saham RI, terbaru Moody’s menurunkan outlook kredit dari stabil menjadi negatif.
Alasan Moody’s cukup jelas, “menurunnya prediktabilitas dalam perumusan kebijakan, yang berisiko melemahkan efektivitas kebijakan serta mengindikasikan pelemahan tata kelola,” katanya.
Moody’s tetap mempertahankan peringkat Baa2 untuk utang jangka panjang Indonesia dalam mata uang lokal dan asing, dua tingkat di atas status non-investment grade. Meski masih masuk dalam level investment grade, penurunan outlook membawa dampak signifikan terhadap aset keuangan Tanah Air, karena menyangkut kredibilitas dan kepercayaan publik.
Perubahan outlook Moody’s menjadi negatif ini semakin mempertegas kekhawatiran bahwa ketidakpastian arah kebijakan dapat menggerus kepercayaan investor.
Bagi pasar surat utang, risiko fiskal yang tidak diimbangi reformasi penerimaan negara akan mendorong kenaikan yield dan mempersempit basis investor jangka panjang. Sementara bagi pasar saham, ancaman MSCI untuk menurunkan bobot Indonesia, bahkan hingga status frontier market, berarti risiko kehilangan akses ke kantong dana institusional global yang selama ini menjadi penopang stabilitas arus masuk portofolio.


























