Logo Bloomberg Technoz

Dari lima GRI tersebut, dua emiten memiliki peringkat satu tingkat di atas sovereign, sementara tiga lainnya berada di level yang sama dengan peringkat pemerintah. Adapun dua perusahaan swasta juga berada pada level peringkat sovereign. Moody’s menjelaskan bahwa langkah pemeringkatan ini terutama mencerminkan perubahan outlook negatif terhadap peringkat sovereign Indonesia.

Perubahan tersebut, mencerminkan meningkatnya risiko terhadap kredibilitas kebijakan, yang tercermin dari menurunnya prediktabilitas dan koherensi dalam proses perumusan kebijakan, serta efektivitas komunikasi kebijakan yang dinilai melemah dalam satu tahun terakhir.

“Langkah pemeringkatan yang diambil hari ini terutama mencerminkan outlook negatif atas peringkat kedaulatan Indonesia di level Baa2, yang menunjukkan meningkatnya risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia, tercermin dari menurunnya prediktabilitas dan koherensi dalam proses perumusan kebijakan, serta komunikasi kebijakan yang kurang efektif sepanjang tahun lalu,” tulis Moody’s.

Namun demikian, penegasan peringkat sovereign Indonesia tetap mempertimbangkan ketahanan ekonomi yang berkelanjutan, yang ditopang oleh faktor struktural seperti basis sumber daya alam dan demografi yang kuat, sehingga mendukung pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang stabil.

Dalam kerangka joint default analysis (JDA), Moody’s menilai bahwa kualitas kredit pemerintah yang memberikan dukungan luar biasa kepada GRI menjadi faktor utama dalam penentuan peringkat emiten-emiten tersebut. Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan dalam daftar terdampak dinilai sensitif terhadap potensi penurunan kualitas kredit pemerintah.

Untuk emiten yang dinilai satu tingkat di atas sovereign, yakni PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk atau TLKM - Telkom dan PT Telekomunikasi Selular atau Telkomsel, Moody’s menilai peringkat Baa1 mencerminkan kekuatan kredit masing-masing perusahaan secara mandiri.

Telkom dinilai memiliki posisi mapan sebagai operator telekomunikasi terintegrasi terbesar di Indonesia, dengan metrik kredit yang kuat dan likuiditas yang sangat baik. Sementara Telkomsel dinilai memiliki profil operasional dan keuangan yang kuat dengan leverage yang konsisten rendah di kisaran 1,0 kali.

Adapun tiga GRI yang berada di level sovereign, yakni PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Hulu Energi (PHE), dan PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID, mempertahankan peringkat Baa2. 

Moody’s menilai peringkat Pertamina mencerminkan kombinasi kekuatan bisnis terintegrasi di sektor migas dan eksposur terhadap lingkungan regulasi yang terus berkembang, serta risiko eksekusi dari rencana investasi yang besar. Sementara PHE dinilai memiliki posisi strategis sebagai lengan hulu Pertamina dengan dukungan arus kas dan likuiditas yang kuat, meski tetap terpapar volatilitas harga minyak.

Untuk MIND ID, Moody’s menilai peringkat Baa2 mencerminkan pentingnya peran strategis perusahaan sebagai pengelola cadangan mineral nasional dan pengembang industri hilir, yang didukung diversifikasi operasi pertambangan serta biaya produksi yang kompetitif secara global.

Sementara itu, dua perusahaan sektor swasta yang terdampak adalah PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT United Tractors Tbk (UNTR), yang masing-masing mempertahankan peringkat Baa2. Moody’s menilai ICBP memiliki posisi dominan sebagai produsen mi instan terbesar di Indonesia dengan diversifikasi geografis yang terus berkembang, didukung kebijakan keuangan konservatif dan likuiditas yang sangat baik. 

Adapun UNTR dinilai memiliki profil keuangan konservatif, posisi kuat di industri alat berat dan jasa pertambangan, serta dukungan dari induk usahanya, PT Astra International Tbk.

Terkait prospek ke depan, Moody’s menyatakan bahwa dengan outlook negatif, tidak terdapat ekspektasi momentum kenaikan peringkat untuk perusahaan-perusahaan tersebut.

Outlook dapat kembali stabil apabila outlook sovereign Indonesia kembali stabil dan kualitas kredit emiten tetap terjaga. Sebaliknya, penurunan peringkat dapat terjadi apabila peringkat sovereign diturunkan atau dukungan pemerintah melemah. “Seiring dengan outlook negatif tersebut, kami tidak memperkirakan adanya momentum kenaikan peringkat pada perusahaan-perusahaan ini,” ungkap Moody’s.

(rtd/wep)

No more pages