Selain itu, terdapat ketidakpastian terkait waktu dan struktur rencana konsolidasi BUMN konstruksi dan jalan tol, serta eksposur terhadap bisnis konstruksi non-tol. Dari sisi keuangan, Moody’s memperkirakan rasio dana dari operasi terhadap utang Hutama Karya berada di kisaran 5–7% dalam satu hingga dua tahun ke depan.
2. PT Pelabuhan Indonesia (Persero)
Pelindo ditegaskan memiliki peringkat penerbit dan surat utang senior tanpa jaminan di level Baa2, dengan Baseline Credit Assessment (BCA) di level baa2. Namun, outlook peringkat Pelindo direvisi menjadi negatif dari stabil. Penyesuaian ini mencerminkan perubahan outlook peringkat kedaulatan Indonesia, yang berpotensi menekan peringkat Pelindo mengingat kepemilikan penuh pemerintah dan keterkaitan yang erat dengan kondisi ekonomi domestik.
Moody’s juga mencatat adanya ketidakpastian terhadap pertumbuhan arus barang di pelabuhan seiring dinamika kebijakan domestik dan perdagangan global. Selain itu, laju penurunan utang Pelindo dinilai lebih lambat dari perkiraan sebelumnya, meskipun perusahaan tetap menjalankan rencana deleveraging dalam beberapa tahun ke depan. Belanja modal Pelindo yang besar dan bersifat ekspansif turut menjadi bagian dari pertimbangan dalam penilaian tersebut.
3. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS)
Adapun untuk PGAS, Moody’s mempertahankan peringkat penerbit di level Baa2 dan BCA di level baa2, dengan outlook direvisi menjadi negatif.
Penyesuaian outlook ini mengikuti perubahan outlook peringkat kedaulatan Indonesia dan mencerminkan kepemilikan mayoritas pemerintah serta fokus bisnis PGAS di pasar domestik. Moody’s menilai kinerja PGAS tetap terkait erat dengan kondisi ekonomi nasional.
Selain itu, perseroan menghadapi tantangan operasional berupa penurunan alami pasokan dari blok gas utama serta berlanjutnya kebijakan batas atas harga gas, yang menjadi faktor dalam penilaian risiko bisnis ke depan.
(art/wep)






























