“Ya memang enggak ada yang makan langsung dari pohon. Mustahil bisa dimakan,” kata Tan Shot Yen.
Dikutip dari berbagai sumber, nira merupakan cairan manis yang diperoleh dari batang tanaman seperti tebu, bit, sorgum, mapel, atau getah tandan bunga dari keluarga palma seperti aren, kelapa, kurma, nipah, sagu, hingga siwalan. Dalam budaya Jawa, nira palma dikenal sebagai legén atau cairan manis hasil sadapan.
Selain nira, tanaman aren juga menghasilkan berbagai bahan pangan dari bagian batang, mayang, hingga buahnya. Batang tanaman aren yang berumur sekitar 15–20 tahun dapat ditebang dan diolah menjadi tepung dengan volume mencapai 60–70 kilogram per pohon.
Pati aren diketahui memiliki kandungan karbohidrat tinggi sekitar 89,31%, mirip dengan pati sagu, sehingga berpotensi menjadi substitusi tepung terigu untuk berbagai produk pangan, termasuk beras analog.
Ia pun memberikan saran kepada masyarakat untuk tak takut mengonsumsi buah di tengah kewaspadaan Nipah ini. Ia menegaskan sebaiknya pilih buah yang dikupas dan memastikan kebersihannya sebelum dikonsumsi.
“Beli buah yang bisa dikupas. Cuci bersih,” kata Tan Shot Yen.
Sebelumnya, Kemenkes mengimbau masyarakat tidak mengonsumsi buah aren langsung dari pohon sebagai langkah kewaspadaan terhadap potensi penularan virus Nipah, penyakit zoonotik yang dapat menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh hewan pembawa virus, seperti kelelawar buah.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kemenkes, Murti Utami, menjelaskan bahwa virus Nipah diketahui memiliki inang alami pada kelelawar buah.
Penularannya dapat terjadi melalui hewan perantara, seperti babi, maupun melalui konsumsi makanan dan minuman yang telah terkontaminasi virus, termasuk buah atau nira.
“Oleh karena itu, sebelum mengkonsumsi aren atau nira, sebaiknya dimasak terlebih dahulu. Kemudian, cuci dan kupas buah secara menyeluruh, serta buang buah yang ada tanda gigitan kelelawar,” ujar Murti dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (2/2/2026).
(ell)




























