Pergerakan mata uang Nusantara saat ini masih dibayangi beragam sentimen dari dalam negeri. Kekhawatiran pasar terhadap konsistensi kebijakan fiskal, serta kebutuhan likuiditas pemerintah yang begitu tinggi jadi faktor yang terus membebani persepsi rupiah.
Pekan lalu, peringatan dari MSCI terkait kelayakan investasi Indonesia juga ikut membuat pasar saham jatuh ke bawah 8.000. Meski para regulator institusi keuangan akan mengatasi kekhawatiran MSCI dan berkomitmen menerapkan free float sebesar 15%, namun beberapa manajer investasi melihat kondisi pasar saham Indonesia masih akan memburuk.
“Jaminan regulator belum cukup meredakan kekhawatiran atas meluasnya peran negara di sektor-sektor utama, serta langkah personel kontroversial di kementerian keuangan dan bank sentral. Perubahan ini telah menggerus kepercayaan. Prabowo tampaknya tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengubah arah kebijakan, yang berarti ketidakpastian masih akan berlanjut.” Adam Farrar, analis geoekonomi Bloomberg Economics, seperti dikutip Bloomberg News.
Melansir data Bloomberg, sejak pekan lalu hingga hari ini (week-to-date) arus modal asing keluar sebanyak US$830,6 juta.
Anjloknya pasar saham lantaran isu kepercayaan, dapat membawa efek ke aset keuangan lainnya termasuk pasar surat utang. Indikasi tersebut tampak dari arus keluar investor asing, dengan dana sebesar US$140,6 juta tercatat meninggalkan pasar surat utang.
Sebagai catatan, surat utang Indonesia saat ini diperdagangkan dengan premi 35 basis poin lebih tinggi dari surat utang di negara berkembang sejenis (peer country). Hal ini menyusul defisit fiskal yang melonjak ke level terbesar setidaknya dalam dua dekade terakhir, di luar masa pandemi.
Defisit fiskal yang terjadi lantaran pemerintah menggenjot belanja sosial dalam bentuk makan siang gratis, membuat pelaku pasar khawatir terkait kondisi keuangan dan kemampuan pembayaran utang.
Namun terlepas dari kekhawatiran itu, beberapa ekonom mencatat bahwa di tengah volatilitas dan isu kepercayaan ini, investor tak juga mudah mengabaikan Indonesia di antara negara berkembang lainnya. Lantaran jumlah populasi penduduk yang besar, konsumsi yang relatif stabil dan memiliki komoditas yang diminati pasar dunia seperti kelapa sawit dan nikel, membuat Indonesia masih jadi primadona dalam radar investor global dibandingkan negara peers.
(riset/aji)

























