Menurut Ateng, inflasi tinggi pada Januari 2026 secara yoy dipengaruhi dampak basis angka yang rendah pada periode yang sama tahun sebelumnya atau low base affect. Pada Januari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan tarif listrik yang menekan IHK 2025. Hal ini pada akhirnya juga mendorong penurunan inflasi pada masa itu.
"Penurunan IHK itu menyebabkan level harga pada januari 2025 berada pada pola di bawah tren normal," tegas dia.
"Dengan demikian, ketika penghitungan inflasi tahunan dilakukan pada periode yang sama, maka basis pembandingnya relatif rendah. akibatnya, inflasi kelihatan tinggi," tambahnya.
Sebelumnya, Konsensus Bloomberg menghasilkan median perkiraan inflasi Januari sebesar 3,76% yoy. Lebih tinggi ketimbang bulan sebelumnya yaitu 2,92%.
Jika terwujud, maka inflasi tahunan Januari akan menjadi yang tertinggi sejak Mei 2023 atau lebih dari 2,5 tahun terakhir.
Secara tahunan, kenaikan harga memang lebih terasa. Terutama akibat normalisasi tarif listrik.
Pada Januari dan Februari 2025, pemerintah memberikan diskon tarif listrik sebesar 50%. Fasilitas ini dinikmati oleh 135 juta pelanggan. Tahun ini, diskon serupa tidak ada lagi dan tarif listrik kembali normal.
Kemudian konsensus Bloomberg menghasilkan median perkiraan inflasi inti (core) pada Januari sebesar 2,38% yoy. Tidak berubah, sama dengan laju bulan sebelumnya.
Sepertinya faktor-faktor yang mendorong inflasi inti adalah pelemahan nilai tukar rupiah dan lonjakan harga emas. Sepanjang Januari, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah 0,54%. Bahkan rupiah sempat menyentuh titik terlemah sepanjang sejarah, di perdagangan intraday menembus level Rp 17.000/US$.
Pergerakan rupiah dari masa ke masa. Tahun ini, rupiah berada di titik terendahnya (20/1/2026). (Bloomberg).
Adapun harga emas masih melanjutkan tren bullish sejak 2025. Sepanjang perdagangan Januari, harga sang logam mulia sudah naik lebih dari 20%.
(lav)




























