Kemudian, komoditas pada kelompok pengeluaran lain yang memberi andil deflasi ialah bensin dan tarif angkutan udara yang masing-masing memberi andil deflasi 0,03%.
Di sisi lain, komoditas yang memberi andil inflasi pada Januari ialah emas perhiasan dengan andil 0,16%, ikan segar 0,06%, serta tomat 0,02%.
Sebelumnya, Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg hingga Jumat (30/1/2026) pagi dengan melibatkan 26 ekonom/analis menghasilkan median proyeksi inflasi bulanan (month-to-month/mtm) pada Januari adalah 0,06%. Jauh melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,64% mtm.
Harga sejumlah komoditas pangan, utamanya beras, yang terkendali membantu memperlambat laju inflasi. Mengutip catatan Badan Pangan Nasional (Bapanas), rata-rata harga beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dalam sebulan terakhir adalah Rp 12.461/kg. Harga ini mencerminkan 7,7% di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).
Kemudian harga rata-rata beras medium dalam sebulan ini ada di Rp 13.527/kg. Lebih dalam, harga ini setara dengan 12,73% di bawah HET.
Lalu harga rata-rata beras premium dalam sebulan terakhir adalah Rp 15.568/kg. Ini 1,47% di bawah HET.
Harga komoditas pangan di luar beras juga relatif terkendali. Misalnya bawang putih bonggol, yang rata-ratanya Rp 38,605/kg. Di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) sebanyak 3,49%.
Lalu harga cabai merah keriting yang sebulan terakhir rata-ratanya Rp 39.993/kg. Jauh dari HAP, mencapai 27,29%.
Namun memang harga bahan pangan lainnya masih terpantau naik, sehingga wajar masih terjadi inflasi. Bawang merah, misalnya.
Rata-rata harga bawang merah dalam sebulan terakhir adalah Rp 42.945/kg. Masih 3,48% di atas HAP.
Sementara rerata harga daging sapi murni dalam sebulan terakhir adalah Rp 136.001/kg. Setara dengan 2,86% di atas HAP.
Demikian pula harga daging ayam ras yang dalam sebulan terakhir ada di Rp 39.288/kg. Di atas HAP sebanyak 1,78%.
Laju inflasi bulanan yang begitu lambat bahkan sampai memunculkan ‘ramalan’ deflasi. Faisal Rachman, Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI), mengungkapkan proyeksi deflasi 0,11% mtm pada Januari.
“Terutama disebabkan oleh harga pangan yang terkendali, harga tiket pesawat, dan harga BBM non-subsidi,” sebut Faisal dalam risetnya.
(lav)

























