Investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) keluar dari pasar saham tercatat mencapai Rp6,2 triliun. Ini langsung memicu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok sebesar 7,35% ke posisi 8.320,55 pada penutupan perdagangan kemarin.
Dalam catatan riset terpisah, analis Goldman Sachs memperkirakan adanya potensi arus keluar pasif dari saham Indonesia pasca penilaian MSCI dapat berkisar antara US$2,2 miliar hingga US$7,8 miliar.
Dari pasar surat utang, respons pasar mungkin tidak dramatis dan panik seperti pasar saham yang sempat mengalami trading halt beberapa kali. Namun, investor di pasar surat utang akan tetap berhitung soal risiko dan menuntut premi risiko lebih tinggi dengan adanya tekanan ini.
Melansir data Bloomberg, investor asing masih mencatatkan aliran dana masuk ke pasar surat utang domestik sebesar US$308,4 juta sejak awal tahun. Pada Senin (26/1/2026), investor global masih mencatatkan pembelian surat utang senilai US$20,9 juta.
Meski begitu, tekanan dari MSCI dan kondisi ekonomi domestik yang memiliki kebutuhan tinggi terhadap arus modal asing berisiko meningkatkan Credit Default Swap (CDS). Meningkatnya persepsi risiko investor di pasar surat utang tercermin dalam CDS. Berbeda dengan peringkat kredit terbitan lembaga pemeringkat rating yang cenderung bergerak lambat, CDS menangkap persepsi risiko secara real time.
Saat ini, CDS Indonesia secara konsisten berada di atas negara sekelompok (peers). CDS sovereign Indonesia tenor lima tahun berada di kisaran 74,78 basis poin, dibandingkan Malaysia di 39,31 bps dan Thailand di 38,90 bps.
(dsp/aji)


























