Araghchi juga berbicara dengan mitranya dari Turki, Hakan Fidan, seperti yang dilaporkan oleh kantor berita semi-resmi Tasnim, mengutip pernyataan resmi.
Abdelatty secara terpisah berbicara dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff tentang Iran dan "menciptakan kondisi untuk pemulihan dialog antara Washington dan Teheran," seperti diberitkan kantor berita semi-resmi Iranian Students’ News Agency,, mengutip pernyataan resmi.
PM Qatar juga berbicara dengan Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman pada Selasa mengatakan ia tidak akan mengizinkan wilayah atau ruang udara kerajaan digunakan untuk serangan militer terhadap Iran.
Witkoff dan Araghchi memimpin negosiasi mengenai program nuklir Iran hingga pembicaraan ditangguhkan setelah serangan Israel dan AS.
Gelombang protes terbaru Iran meletus pada 28 Desember, awalnya karena penurunan nilai mata uang secara tiba-tiba, sebelum berkembang secara nasional menjadi kecaman terkuat terhadap Republik Islam dalam sejarahnya.
Penindakan selanjutnya telah menewaskan hampir 6.000 warga sipil, menurut data terbaru yang dikumpulkan oleh Jaringan Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS.
Menambah masalah Iran, pelemahan rial kembali berlanjut setelah stabil selama dua pekan terakhir. Mata uang tersebut anjlok ke rekor baru sekitar 1,6 juta per dolar pada Rabu, menurut bonbast.com, situs yang memantau nilainya di pasar gelap. Kejatuhan rial pada Desember-lah yang memicu protes tersebut.
Ultimatum Trump
Presiden Donald Trump memperingatkan Iran agar menandatangani kesepakatan nuklir dengan AS atau menghadapi serangan militer yang jauh lebih buruk daripada serangan yang diperintahkannya Juni lalu.
Dalam unggahan media sosial pada Rabu, Trump mengatakan armada kapal AS yang diperintahkannya ke wilayah tersebut, dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln, "siap, bersedia, dan mampu melaksanakan misinya segera, dengan cepat dan kekerasan, jika perlu."
"Semoga Iran segera 'Datang ke Meja Perundingan' dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan merata—TANPA SENJATA NUKLIR—yang baik bagi semua pihak," tulis Trump.
Pernyataan terbaru Trump ini mengangkat harga minyak ke level tertinggi baru dalam empat bulan. Minyak berjangka Brent mencapai US$68,19 per barel menyusul unggahan Trump, level tertinggi sejak akhir September, memperpanjang kenaikan 3% pada sesi sebelumnya.
Trump telah berulang kali memperingatkan Iran bahwa AS mungkin melancarkan serangan lain, tetapi ancaman tersebut baru-baru ini dikaitkan dengan tindakan keras Teheran yang mematikan terhadap protes, bukan aktivitas nuklirnya. Pemimpin AS itu sebelumnya mengatakan program nuklir Iran telah "hancur" dalam serangan Juni lalu yang menargetkan tiga fasilitas.
Iran telah lama menyatakan tidak ingin mengembangkan senjata nuklir. Yang perlu diperhatikan, dalam unggahan terbarunya, Trump tidak menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium, program rudal balistiknya, atau pendanaan milisi proksi anti-AS, semua syarat yang sebelumnya ditolak Iran.
Bulan ini, Trump mengatakan pejabat Iran telah menghubunginya untuk melanjutkan negosiasi mengenai kesepakatan, yang sebelumnya fokus pada pembatasan pengembangan nuklir negara itu sebagai imbalan atas pencabutan sanksi.
Tanda-tanda muncul dalam beberapa bulan terakhir bahwa Iran dapat memulai kembali program tersebut jika diinginkan. Rafael Mariano Grossi, direktur badan pengawas nuklir PBB, mengatakan dalam wawancara pekan lalu bahwa negara itu masih menyimpan cadangan uranium yang diperkaya tinggi.
Trump berubah-ubah pikiran dalam beberapa hari terakhir mengenai apakah AS akan menyerang Iran lagi. Sebelumnya ia mengisyaratkan cenderung tidak akan menyerang setelah mengklaim Iran telah setuju tidak mengeksekusi sejumlah orang yang ditangkap selama demonstrasi.
"Kami pikir serangan terhadap Iran kemungkinan besar akan terjadi, kecuali jika Iran menerima tuntutan luas Trump untuk menonaktifkan program nuklir mereka—yang tampaknya tidak mungkin," tulis analis Bloomberg Economics, Becca Wasser dan Dina Esfandiary.
— Dengan asistensi laporan dari Nick Wadhams dan Eltaf Najafizada - Bloomberg News
(bbn)
































