Menurut Iman, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) tengah menindaklanjuti sejumlah hal yang menjadi perhatian MSCI. Otoritas pasar modal saat ini sedang mempersiapkan langkah-langkah untuk memenuhi kebutuhan data yang dipersyaratkan, terutama data yang bersumber dari KSEI.
Dia menambahkan bahwa upaya pemenuhan transparansi tersebut tidak hanya ditujukan untuk memenuhi permintaan MSCI, tetapi juga dinilai penting bagi penguatan industri pasar modal nasional secara keseluruhan.
“Transparansi data ini bukan hanya baik untuk MSCI, tetapi juga baik untuk pasar modal Indonesia,” kata Iman.
Terkait dampak jangka pendek, Iman menyebutkan bahwa pada periode Februari hingga Mei tidak akan terjadi perubahan konstituen maupun bobot Indonesia dalam indeks MSCI. Pangsa pasar Indonesia di MSCI yang saat ini berada di kisaran 1,5% dipastikan tetap bertahan selama periode tersebut.
Namun demikian, BEI mengakui tantangan utama akan muncul setelah periode tersebut apabila kebutuhan keterbukaan data tidak dapat dipenuhi sesuai dengan metodologi MSCI. Oleh karena itu, proses diskusi antara BEI, OJK, dan KSEI dengan MSCI akan terus dilanjutkan.
“Diskusi ini tidak berhenti minggu lalu, tetapi terus kami lakukan agar kebutuhan metodologi MSCI dapat dipenuhi dengan data yang tersedia di KSEI,” ujar Iman.
(art/wep)























