Logo Bloomberg Technoz

Meski demikian, Purbaya menilai inflasi di Indonesia sebetulnya masih amat rendah. Inflasi inti hanya sekitar 2,3 persen. Bila harga emas tidak dihitung, inflasi menjadi hanya sekitar 1,5 persen. Artinya, konsumsi domestik masih bisa didorong lebih agresif, tak perlu takut inflasi melonjak.

"Sebetulnya permintaan masih relatif rendah.
Belum ada demand pull inflation. Artinya, saya bisa mendorong ekonomi ke tingkat yang lebih cepat lagi tanpa khawatir adanya kenaikan bunga yang terlalu signifikan dari Bank Sentral. Jadi, saya punya ruang untuk mendorong ekonomi lebih cepat lagi," ucapnya.

Purbaya pun membeberkan bahwa Bank Indonesia (BI) sudah mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi nasional bisa digenjot hingga 6,2 persen. Bila potensi pertumbuhan itu dapat diwujudkan, Indonesia bisa keluar dari 'kutukan 5 persen'. Terakhir kali ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran 6 persen adalah pada 2012.

"Bisa 6,2 persen potensial growth rate-nya. Dia (BI) ngomong seperti itu. Saya ingin mendorong terus ekonomi tahun ini ke arah 6 persen dengan berbagai cara. Kalau itu terjadi, maka kita sudah mengalami breakout dari 'kutukan 5 persen' dan bisa tumbuh lebih cepat lagi," tegasnya.

(red)

No more pages