Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutyanto, memandang situasi ini dapat dilihat sebagai momentum perbaikan, bukan semata-mata sebagai ancaman.
“Pasar modal Indonesia memiliki fondasi yang kuat, jumlah investor domestik yang terus bertumbuh, fundamental ekonomi yang relatif solid, serta emiten dengan kualitas bisnis yang kompetitif secara regional,” tulisnya, Rabu (28/1).
Di samping itu, ia menekankan bahwa tantangan ke depan adalah memastikan infrastruktur regulasi, transparansi data, dan konsistensi kebijakan mampu mengimbangi kemajuan tersebut.
Menurut David, koreksi IHSG hari ini sebaiknya dipahami sebagai refleksi dari proses penyesuaian pasar terhadap informasi baru.
Lebih jauh, situasi ini juga memberikan kesempatan bagi pasar modal Indonesia untuk melakukan penguatan struktural yang berpotensi memberikan dampak positif dalam jangka panjang.
“Jika momentum ini dimanfaatkan dengan baik, bukan hanya status Indonesia sebagai Emerging Market yang dapat dipertahankan, tetapi kualitas pasar modal nasional justru dapat meningkat dan semakin dipercaya oleh investor global,” tambahnya.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta.
Ia menilai bahwa pelemahan IHSG hari ini kurang mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia yang saat ini masih solid. Oleh karena itu, penurunan indeks justru dapat dimanfaatkan sebagai peluang investasi.
“Secara dinamika perekonomian, fundamental makroekonomi Indonesia sebenarnya masih solid,” tegasnya.
“Dengan adanya penurunan IHSG ini, investor sebaiknya tidak panik dan dapat mempertimbangkan strategi buy on dip,” pungkasnya.
(red)






























