Logo Bloomberg Technoz

Transaksi perdagangan saham yang didominasi penjualan mencapai 36,02 miliar saham dengan nilai transaksi Rp24,74 triliun. Frekuensi yang terjadi sebanyak 2,3 juta kali diperjualbelikan.

Hanya ada 33 saham yang menguat. Sebanyak 758 saham melemah dan 13 saham lainnya tidak bergerak.

Sepanjang perdagangan pagi hari ini, tekanan jual amat deras. Rentang perdagangan terjadi di area level 8.596 sampai dengan terlemahnya hingga menyentuh 8.312.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG mencatat penurunan terdalam di Asia. Jauh jika dibandingkan indeks TOPIX (Jepang) yang hanya melemah 0,96% di posisi terlemah kedua.

Penyebab IHSG Melemah

Sejumlah saham menjadi pemberat IHSG pada perdagangan pagi hari ini. Saham–saham infrastruktur, saham energi, dan saham properti mencatatkan pelemahan paling dalam, dengan masing–masing terkoreksi mencapai 9,41%, 9,26% dan 7,28%.

Kejatuhan IHSG yang begitu dalam merupakan efek secara langsung dari turunnya sejumlah saham–saham konglomerasi yang memiliki bobot amat besar terhadap IHSG.

Daftar saham big caps yang jatuh berdasarkan data Bloomberg:

  1. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menekan 61,79 poin
  2. Barito Renewables Energy (BREN) menekan 46,42 poin
  3. Telkom Indonesia (TLKM) menekan 36,94 poin
  4. Bumi Resources Minerals (BRMS) menekan 28,47 poin
  5. Bank Central Asia (BBCA) menekan 26,14 poin
  6. Barito Pacific (BRPT) menekan 23,02 poin
  7. Mora Telematika Indonesia (MORA) menekan 19,24 poin
  8. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menekan 18,92 poin
  9. Amman Mineral Internasional (AMMN) menekan 16,74 poin
  10. Impack Pratama Industri (IMPC) menekan 13,59 poin

Adapun saham–saham infrastruktur lain juga jadi pendorong pelemahan IHSG. Saham PT Protech Mitra Perkasa Tbk (OASA) ambruk 14,9%, PT XLSmart Tbk (EXCL) amblas 14,9%, dan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) juga terjebak di zona merah dengan jatuh 14,8%.

Disusul oleh pelemahan saham energi, saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) yang terjun bebas 15%. Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) ambrol 14,9% dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) yang melemah 14,9%.

Panic Selling Imbas Pengumuman Terbaru MSCI

Berdasarkan informasi di pasar, Morgan Stanley Capital International atau MSCI, penyedia indeks global yang sangat berpengaruh bagi aliran dana asing di pasar modal Indonesia, memberlakukan pembekuan kebijakan indeks untuk saham-saham Indonesia secara efektif segera.

Melansir sejumlah riset yang diterima, MSCI menyimpulkan transparansi kepemilikan saham di Indonesia belum memadai untuk penilaian free float yang akurat. 

Data kepemilikan dari KSEI dianggap belum cukup dapat diandalkan dan peningkatan data dari IDX belum mengatasi masalah fundamental terkait investability dan pembentukan harga yang wajar.

Karena itu, MSCI menerapkan perlakuan sementara yang berlaku segera:

  • Pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham (NOS).
  • Tidak ada penambahan saham Indonesia ke MSCI Investable Market Indexes (IMI).
  • Tidak ada migrasi naik antar segmen indeks, termasuk dari Small Cap ke Standard.

MSCI memberikan tenggat hingga Mei 2026 untuk peningkatan transparansi. 

Jika tidak tercapai, maka Indonesia berisiko mengalami penurunan bobot di MSCI Emerging Markets atau bahkan diturunkan statusnya menjadi Frontier Market.

Artinya, dampak untuk pasar saham Indonesia adalah potensi outflow yang cukup besar, karena saham Indonesia tidak akan mengalami upgrade bobot maupun penambahan dalam indeks.

Sentimen pasar dapat terdampak negatif karena penilaian MSCI mengenai rendahnya kualitas transparansi kepemilikan. Terlebih lagi, Indonesia berisiko menjadi kurang kompetitif dibanding negara emerging market lain sampai perbaikan struktural dilakukan oleh regulator.

CGS International Sekuritas Indonesia turut menyebut, berlanjutnya aksi jual investor asing dan pengumuman terbaru dari MSCI terkait pembekuan penyesuaian positif saham Indonesia menjadi sentimen negatif untuk IHSG sepanjang perdagangan hari ini.

(fad/aji)

No more pages