Permasalahannya, Hadi ragu RDMP di Kilang Dumai bisa rampung dibangun pada 2027. Sebagai acuan, pembangunan RDMP Balikpapan saja memakan waktu hampir tujuh tahun.
Hadi meyakini target Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menyetop impor bensin setara Pertamax tersebut baru bisa tercapai pada 2029. Dengan catatan, seluruh proses pembangunan RDMP dilakukan secara cepat dan tanpa kendala.
“Kalau di-state [dinyatakan] hari ini artinya pada 2028 atau 2029 paling cepat, dengan semua komponen dibuat fast track project. Asumsi pemerintah menambah 1 lagi RDMP sekelas Kilang Balikpapan,” tegas Hadi.
Hadi menegaskan target menghentikan impor BBM jenis bensin nonsubsidi tersebut tidak bakal tercapai jika pemerintah tidak membangun proyek RDMP pada salah satu kilang eksisting.
Selain itu, Hadi juga mengingatkan agar minyak mentah yang nantinya diimpor oleh Indonesia harus sesuai dengan karakteristik dan komposisi BBM yang ingin diproduksi.
“Apakah bisa diselesaikan tanpa mrmbangun RDMP lagi? Bisa, tetapi berat sekali secara engineering untuk modifikasi Kilang, khawatir justru kalau gagal akan mengganggu pasokan. Lebih aman membangun RDMP baru,” papar dia.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan rencana penghentian impor BBM jenis bensin hanya dilakukan untuk nilai oktan atau research octane number (RON) 92, RON 95, dan RON 98.
Rencanannya, penghentian impor bensin itu dilakukan pada akhir 2027. Adapun, bensin RON 90 yakni BBM bersubsidi Pertalite bakal tetap diimpor.
Bahlil menyatakan keputusan terkait penyetopan impor sejumlah jenis BBM tersebut akan diputuskan oleh Kementerian ESDM pada akhir 2027.
“Kemudian bensin yang RON 92, 95, 98 [akan distop impornya]. Jadi tinggal kita impor yang RON 90 saja, yang untuk subsidi,” kata Bahlil dalam rapat kerja di Komisi XII DPR, Kamis (22/1/2026).
Bahlil menegaskan ketika impor itu distop, maka Indonesia bakal menggantinya dengan impor minyak mentah dan mengolahnya sendiri di kilang domestik.
“Nah, ini kita akan selesaikan nanti di akhir 2027. Supaya apa? Kita tidak lagi terlalu banyak mengimpor produk. Akan tetapi, nanti yang kita impor adalah crude,” ujar dia.
Di sisi lain, Bahlil memastikan Indonesia sudah tidak mengimpor BBM jenis solar dengan cetane number (CN) 48 mulai awal tahun ini.
Setelah itu, lanjut dia, pada semester II-2026 Indonesia juga akan menyetop impor solar berkualitas tinggi atau CN 51.
Begitu juga dengan avtur, Indonesia sudah tidak mengimpor bahan bakar pesawat terbang tersebut tahun depan, seiring terdapat surplus solar hasil produksi RDMP Balikpapan.
Terpisah, Bahlil mengatakan Pertamina akan bermitra dengan swasta untuk menggarap proyek RDMP di Kilang Dumai, Riau.
Kepastian itu disampaikan Bahlil selepas Pertamina menyelesaikan pembangunan RDMP di Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur.
“Kita akan mengembangkan untuk storage dan kapasitas-kapasitas RDMP lain seperti di Dumai,” kata Bahlil kepada awak media di kawasan RDMP Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026),
Sekadar catatan, PT Pertamina (Persero) mengendalikan bisnis penyulingan minyak lewat anak usahanya, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI). Saat ini, KPI mengoperasikan enam kilang dengan kapasitas pengolahan mencapai 1 juta barel per hari.
Sejumlah kilang itu termasuk refinery unit (RU) II Dumai dengan kapasitas 170.000 bph, RU III Plaju berkapasitas 126.000 bph, RU IV Cilacap berkapasitas 348.000 bph, RU V Balikpapan berkapasitas 360.000 bph, RU VI Balongan berkapasitas 150.000 bph, dan RU VII Kasim berkapasitas 10.000 bph.
(azr/wdh)





























