Logo Bloomberg Technoz

Hendra menambahkan, dengan porsi kepemilikan publik yang besar, pergerakan saham BBCA sangat dipengaruhi oleh kondisi global serta persepsi investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia.

“Ini memang tergantung situasi di global dan situasi investor juga. Jadi memang pertanyaannya ini agak sulit untuk dijawab apakah ini saatnya beli atau tidak,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keputusan investasi sepenuhnya bergantung pada penilaian investor terhadap arah perekonomian nasional ke depan.

“Karena ini tergantung bagaimana para investor asing melihat prospek ekonomi Indonesia ke depannya,” tambah Hendra.

Di tengah dinamika pergerakan saham tersebut, kinerja operasional BCA sepanjang 2025 tercatat tetap solid. Hingga Desember 2025, total kredit BCA dan entitas anak tumbuh 7,7% secara tahunan menjadi Rp993 triliun, dengan pertumbuhan rata-rata kredit mencapai 10,8% sepanjang tahun. Penyaluran kredit tersebar ke berbagai sektor, termasuk manufaktur, perdagangan, restoran, hotel, dan rumah tangga.

Dari sisi pendanaan, dana giro dan tabungan (CASA) tumbuh 13,1% secara tahunan menjadi Rp1.045 triliun, sementara total dana pihak ketiga meningkat 10,2% YoY menjadi Rp1.249 triliun. Kualitas aset tetap terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 1,7% dan loan at risk (LAR) yang membaik ke level 4,8%.

Pendapatan bunga bersih BCA tumbuh 4,1% YoY, sementara pendapatan nonbunga meningkat 16% YoY. Secara keseluruhan, pendapatan operasional naik 5,4% dan menopang pertumbuhan laba bersih sebesar 4,9% YoY menjadi Rp57,5 triliun pada 2025.

“Kami senantiasa berupaya menyediakan produk dan layanan secara optimal untuk memenuhi beragam kebutuhan nasabah dan masyarakat,” kata Hendra Lembong.

Ia menambahkan, pengembangan layanan digital, peningkatan efisiensi operasional, serta pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, terus dilakukan untuk menjaga kualitas layanan dan kinerja perusahaan.

(dhf)

No more pages