Samuel mencatat Indonesia menyuplai sekitar 58% pasokan sarang burung walet dunia, dengan lebih dari 85% permintaan ekspor global mengalir ke China dan Hong Kong, seiring meningkatnya konsumsi produk kesehatan di kalangan konsumen muda kelas menengah atas. Tren tersebut mendorong pertumbuhan ekspor sarang burung walet Indonesia dengan CAGR sekitar 15,7% dalam 10 tahun terakhir.
Selain ekspor, Samuel juga menyoroti potensi pertumbuhan bisnis produk konsumen RLCO di pasar domestik. Pasar suplemen makanan Indonesia diperkirakan bernilai US$3,24 miliar pada 2024 dan berpotensi meningkat menjadi US$4,72 miliar pada 2030. Saat ini, segmen produk konsumen menyumbang sekitar 15,9% dari total pendapatan RLCO, namun diproyeksikan tumbuh pesat melalui merek seperti Realfood dan Momiku, serta diversifikasi produk ke minuman siap minum (RTD), makanan siap saji (RTE), minuman bubuk, hingga produk berbasis protein alami.
Berdasarkan perhitungan Samuel, RLCO juga berpeluang memenuhi kriteria masuk indeks MSCI seiring peningkatan kapitalisasi pasar yang disesuaikan. Dengan asumsi peningkatan kapitalisasi pasar hingga Rp50,1 triliun, Samuel menetapkan target harga Rp80.000/saham, atau mencerminkan potensi kenaikan sekitar 820% dari level harga sebelum suspensi.
Sebagai perbandingan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang juga telah masuk indeks MSCI masih berada di level Rp7.550/saham. BBCA resmi melantai di bursa 26 tahun lalu dengan harga perdana Rp1.400/saham. Saat ini, kapitalisasi pasar BBCA berada di posisi Rp930,73 triliun.
Dengan indikator fundamental tersebut, target harga saham BBCA untuk 12 bulan ke depan ada di Rp10.310/saham, berdasarkan konsensus Bloomberg.
(dhf)




























