Apa Saja yang Dapat Menyebabkan Banjir? Ini 6 Faktornya
Referensi
23 January 2026 10:27

Bloomberg Technoz, Jakarta - Banjir bandang masih menjadi salah satu bencana alam yang paling menakutkan di Indonesia.
Kejadian ini kerap datang tiba-tiba, membawa arus air deras, lumpur, batu, hingga material kayu yang mampu menghancurkan apa saja yang dilaluinya. Tidak jarang, banjir bandang juga menimbulkan korban jiwa serta kerugian materi dalam jumlah besar.
Indonesia sebagai negara dengan curah hujan tinggi dan kondisi geografis yang beragam memiliki tingkat kerentanan yang signifikan terhadap bencana hidrometeorologi. Banjir bandang menjadi ancaman serius, terutama di wilayah perbukitan, pegunungan, serta daerah aliran sungai yang tidak terkelola secara optimal.
Penyebab terjadinya banjir bandang pada dasarnya memiliki kesamaan dengan banjir musiman. Namun, perbedaannya terletak pada skala, kecepatan, dan daya rusak aliran air. Dalam banyak kasus, banjir bandang terjadi secara mendadak dan sulit diprediksi, sehingga dampaknya jauh lebih destruktif.
Sejumlah peristiwa banjir bandang di berbagai daerah bahkan tercatat merenggut korban jiwa. Aktivitas manusia yang tidak selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan kerap menjadi faktor yang memperparah risiko, mulai dari degradasi hutan hingga tata ruang yang tidak terkendali.
Sebagaimana dirangkum Bloomberg Technoz dari berbagai sumber, terdapat 6 faktor utama yang secara konsisten menjadi pemicu terjadinya banjir bandang di Indonesia.
Faktor Utama Penyebab Banjir Bandang
1. Curah Hujan dengan Intensitas Tinggi
Curah hujan ekstrem dalam durasi panjang mendorong peningkatan debit air secara signifikan. Ketika kapasitas resapan tanah dan sistem drainase tidak mampu menampung lonjakan volume tersebut, air akan meluap dan berpotensi memicu banjir bandang, khususnya di wilayah dengan kontur dataran tinggi.
2. Akumulasi Sampah yang Menghambat Aliran Air
Pembuangan sampah ke sungai dan saluran air mempersempit ruang aliran dan menurunkan kapasitas tampung. Sampah yang menumpuk menciptakan tekanan air berlebih, yang dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan luapan air secara tiba-tiba.
3. Degradasi Hutan akibat Penebangan Liar
Berkurangnya tutupan hutan menurunkan kemampuan tanah dalam menyerap air hujan. Kondisi ini mempercepat limpasan permukaan serta meningkatkan potensi banjir bandang dan longsor, terutama di kawasan perbukitan dan daerah aliran sungai bagian hulu.
4. Alih Fungsi Lahan Resapan Air
Pembangunan pemukiman dan infrastruktur di kawasan resapan air mengurangi daya serap tanah secara struktural. Akibatnya, air hujan mengalir lebih cepat ke wilayah hilir dengan volume dan kecepatan tinggi.
5. Pengaruh Topografi dan Gradien Lahan
Perbedaan elevasi yang tajam antara wilayah hulu dan hilir meningkatkan energi aliran air. Dalam kondisi ekstrem, arus deras dari dataran tinggi memiliki daya rusak signifikan terhadap bangunan, jalan, dan fasilitas publik.
6. Tekanan Volume Air dalam Jumlah Besar
Penumpukan air di situ, waduk, atau tanggul meningkatkan risiko kegagalan struktur penahan air. Ketika terjadi kebocoran atau jebol, pelepasan air secara tiba-tiba dapat memicu banjir bandang dengan dampak luas dalam waktu singkat.
“Kebiasaan buruk dalam membuang sampah sembarangan sudah pasti akan memberi dampak buruk bagi lingkungan.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa faktor perilaku manusia memiliki kontribusi besar dalam memperbesar risiko bencana.
Dampak dan Pentingnya Kesadaran Lingkungan
Banjir bandang tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga memicu dampak sosial dan ekonomi jangka panjang. Kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, serta trauma psikologis menjadi konsekuensi yang harus ditanggung masyarakat terdampak.
Kesadaran terhadap penyebab terjadinya banjir bandang menjadi krusial dalam konteks mitigasi risiko. Pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan lingkungan melalui penataan ruang yang berkelanjutan, pengelolaan sampah yang disiplin, serta perlindungan kawasan hutan.
Pemilihan lokasi hunian juga menjadi faktor penting. Menghindari kawasan rawan banjir dan aliran air deras dapat meminimalkan potensi kerugian. Semakin tinggi lokasi penampungan air di suatu wilayah, semakin besar pula risiko kerusakan di area hilir jika terjadi kegagalan sistem.
Pada akhirnya, banjir bandang bukan semata-mata persoalan alam, melainkan refleksi dari interaksi manusia dengan lingkungannya. Perubahan perilaku dan kebijakan berbasis keberlanjutan menjadi kunci untuk menekan risiko bencana di masa depan.
































