“Ketergantungan pada bahan bakar fosil memicu ketidakstabilan di panggung global, sehingga urgensi transisi menuju energi bersih kini makin jelas.”
Uni Eropa menargetkan energi terbarukan mencakup 42,5% dari jaringan listriknya pada akhir dekade ini.
Target tersebut, yang juga mencakup listrik impor, merupakan bagian dari upaya blok itu untuk memangkas emisi gas rumah kaca sebesar 55% pada 2030 dibandingkan level 1990.
Produksi listrik tenaga surya melonjak lebih dari 20% untuk tahun keempat berturut-turut. Secara keseluruhan, energi terbarukan menyumbang 48% dari total listrik yang dihasilkan di Uni Eropa pada 2025.
Pembangkit listrik berbahan bakar gas naik 8% dibandingkan tahun sebelumnya, terutama akibat penurunan produksi tenaga air, menurut Ember.
Meski demikian, peran gas sebagai sumber energi telah turun 18% dari puncaknya pada 2019.
“Prioritas berikutnya bagi Uni Eropa adalah mengurangi secara signifikan ketergantungan pada gas impor yang mahal,” kata Petrovich.
“Gas tidak hanya membuat Uni Eropa lebih rentan terhadap pemerasan energi, tetapi juga mendorong kenaikan harga.”
(bbn)






























