Logo Bloomberg Technoz

Penangkapan dua kapal tersebut berisiko memperburuk ketegangan dengan Rusia. Bella 1, yang dikenai sanksi pada 2024, telah berganti bendera Rusia—awaknya bahkan mengecat bendera tiga warna Rusia di lambung kapal—dan mengganti namanya menjadi Marinera.

Rusia telah mengirim kapal selam dan aset angkatan laut lainnya untuk mengawal kapal tersebut dan meminta AS agar berhenti mengejar kapal tersebut, seperti dilaporkan oleh Wall Street Journal.

M Sophia, yang disita dengan dukungan Inggris, dikenai sanksi pada 2025 dan terlibat dalam perdagangan minyak Rusia, mengambil kargo dari kapal-kapal kecil di lepas pantai eksklave Spanyol Ceuta pada Maret 2023 dan mengirimkannya ke China.

Termasuk penyitaan terbaru ini, AS kini menahan empat kapal tanker dalam beberapa pekan sejak memberlakukan karantina terhadap kapal-kapal yang berlayar ke dan dari Venezuela, menurut TankerTrackers.com, yang memantau industri tersebut.

Situs itu mengatakan keempat kapal tersebut disanksi AS dan telah mengangkut minyak atas nama Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), yang ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh AS.

Langkah-langkah ini menyoroti bagaimana pemerintahan AS memperluas cakupan karantina dengan mengejar kapal-kapal, bahkan jika mereka jauh dari Venezuela. Dalam wawancara setelah Maduro ditangkap pada 3 Januari, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan pembatasan aliran minyak akan menjadi cara krusial untuk menekan pemimpin Venezuela yang menggantikannya.

Pada Selasa, Presiden Donald Trump mengatakan Venezuela akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyaknya kepada AS, senilai lebih dari US$2 miliar. Dan Rabu pagi, Menteri Energi Chris Wright mengutarakan AS berencana mengendalikan penjualan minyak dari Venezuela di masa mendatang tanpa batas waktu, dan menggunakan hasilnya untuk membangun kembali ekonomi negara yang terpuruk.

"Kami perlu memiliki pengaruh dan kendali atas penjualan minyak tersebut untuk mendorong perubahan yang harus terjadi di Venezuela," kata Wright.

Meski beberapa negara keberatan atas penyitaan AS, negara lain turut membantu. Inggris mengonfirmasi pada Rabu bahwa mereka mendukung operasi AS untuk menyita Bella 1 setelah AS meminta bantuan.

Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan bahwa pasukan bersenjatanya memberikan dukungan pengawasan dan mengizinkan aset militer AS untuk bermarkas di pangkalan militer Inggris.

"Kedalaman hubungan pertahanan kami dengan AS merupakan bagian penting dari keamanan kami, dan operasi yang berjalan lancar hari ini menunjukkan betapa baiknya hal ini bekerja dalam praktiknya," kata Menteri Pertahanan John Healey.

Penyitaan Bella menandai akhir pengejaran yang dimulai akhir Desember ketika tanker tersebut berbalik arah dari Venezuela dan mundur ke Samudra Atlantik untuk menghindari karantina AS. Pemerintahan Trump mengerahkan aset angkatan lautnya di Karibia untuk menekan Maduro beberapa hari sebelum pasukan khusus AS melancarkan operasi untuk menangkapnya.

Data pelacakan kapal menunjukkan Bella sedang menuju Venezuela, tempat kapal tersebut akan memuat kargo, sebelum berbalik arah saat mendekati Kepulauan Leeward. Klip video proses pemuatan kapal Sophia yang diunggah di X menunjukkan kapal tersebut tenggelam cukup dalam di air, mengindikasikan bahwa kapal tersebut berisi muatan.

Perusahaan intelijen perdagangan Kpler mencatat kapal tersebut memuat sekitar dua juta barel minyak mentah Venezuela dari terminal ekspor Jose pada akhir Desember.

(bbn)

No more pages