Meski demikian, Presiden mengingatkan agar pelaksanaan program tidak dilakukan secara terburu-buru.
“Pak Presiden menyampaikan ‘jangan ngoyo’, supaya kualitas SDM dan pembangunan SPPG benar-benar sesuai juknis, sehingga bisa menuju nol kecelakaan,"katanya.
Ia menyebutkan bahwa tren kasus keracunan MBG menunjukkan penurunan signifikan sejak September 2025. Nanik menjelaskan, penurunan tersebut terjadi karena penerapan standar keamanan yang semakin ketat, termasuk kewajiban penerapan sistem SLHS pada seluruh rantai penyediaan makanan bergizi. Upaya ini dilakukan untuk memastikan kualitas dan keamanan pangan tetap terjaga.
Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya sempat ditemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) di udara dan air. Menyikapi temuan tersebut, kini penggunaan air diwajibkan menggunakan air galon bermerek yang terjamin bebas bakteri, khususnya E. coli.
“Air sekarang harus menggunakan air galon merek yang terjamin tidak ada bakterinya, bebas E. coli,” jelasnya.
Selain itu, Badan Gizi Nasional juga akan segera menerbitkan petunjuk teknis (juknis) yang lebih tegas dalam waktu dekat. Juknis tersebut akan mengatur standar operasional dapur penyedia MBG secara lebih ketat.
Nanik menegaskan, dapur yang tidak memenuhi standar akan diberikan sanksi bertahap berupa peringatan pertama, kedua, hingga ketiga. “Ketika peringatan ketiga, kami akan tutup. Itu sikap keras kami,” tegasnya.
(dec/spt)































