Untuk itu, Sutopo memprediksi pasokan minyak dari Venezuela tak serta-merta akan beredar di pasar global meskipun AS masuk mengelolanya.
Setelah itu, lanjut Sutopo, AS diprediksi akan mengatur peredaran minyak Venezuela secara terukur demi menghindari semakin anjloknya harga minyak dunia gegara tambahan pasokan dari negara Amerika Selatan itu.
“Kemungkinan besar, produksi akan meningkat secara bertahap dan terkendali. AS melalui perusahaan-perusahaan energinya tentu ingin menjaga stabilitas harga agar investasi mereka tetap menguntungkan,” terang Sutopo.
“Jadi, alih-alih banjir yang tidak beraturan, kita akan melihat ‘aliran yang diukur’ di bawah pengawasan kebijakan energi Amerika,” lanjutnya.
Terpisah, Ekonom energi Center of Reform on Economics (Core) Muhammad Ishak Razak memandang jika dalam jangka menengah–panjang pasokan minyak dari Venezuela meningkat, terdapat potensi minyak negara tersebut turut membanjiri pasar Asia.
Dengan begitu, harga minyak di kawasan Asia dapat ikut turun hingga akhirnya berpotensi membuat harga BBM yang diimpor Indonesia turun.
“Ini berpotensi membuat harga BBM di Indonesia lebih murah sebab bergantung pada harga global,” tegas dia.
Presiden Donald Trump mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat (AS) mungkin akan menyubsidi upaya perusahaan energi untuk membangun kembali industri minyak Venezuela.
Hal itu diwacanakan setelah pemerintahannya berupaya meyakinkan perusahaan migas untuk berinvestasi di negara tersebut, beberapa hari setelah menggulingkan Presiden Nicolás Maduro.
Trump mengatakan proyek perluasan operasi perusahaan industri minyak AS di negara itu dapat "berjalan dan beroperasi" dalam waktu kurang dari 18 bulan, dalam sebuah wawancara dengan NBC News pada Senin (5/1/2026) waktu setempat.
Pada Selasa malam, Trump mengatakan Venezuela akan memulai dengan mengirimkan hingga 50 juta barel minyak ke AS — senilai lebih dari US$2,8 miliar berdasarkan harga acuan West Texas Intermediate (WTI) saat ini — seraya menyatakan minyak tersebut akan dijual pada harga pasar dan hasilnya akan menguntungkan kedua negara.
Adapun, nasib miliaran barel minyak Venezuela yang menjadi hak perusahaan asing berdasarkan perjanjian saat ini makin terkatung-katung menyusul penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh Washington pada akhir pekan lalu.
Mengutip Bloomberg News, perusahaan migas milik negara China dan Rusia tercatat memiliki beberapa klaim terbesar atas minyak negara Amerika Latin tersebut, kata analis Morgan Stanley termasuk Martijn Rats dalam sebuah catatan.
Meskipun demikian, aset yang signifikan tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan lebih dari 200 miliar barel yang dimiliki oleh Petroleos de Venezuela SA.
China Petroleum & Chemical Corp., yang dikenal sebagai Sinopec, memiliki sekitar 2,8 miliar barel minyak yang menjadi haknya di Venezuela, diikuti oleh Roszarubezhneft dan China National Petroleum Corp., kata Morgan Stanley, mengutip data dari konsultan Wood Mackenzie.
Adapun, Badan Energi Internasional (IEA) pada Oktober tahun lalu telah menaikkan proyeksinya untuk surplus minyak terbesar akan terjadi pada 2026.
Pasar minyak akan mengalami surplus karena produksi dari lima negara benua Amerika; AS, Kanada, Brasil, Guyana, dan Argentina, diperkirakan melampaui pertumbuhan permintaan, yang sebagian besar disebabkan oleh pergeseran China dari industri berat dan kendaraan berbahan bakar fosil, kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol dalam wawancara dengan Jennifer Zabasajja di Bloomberg Television, medio Oktober 2025.
(azr/wdh)



























