Sebagai informasi, AS menangguhkan seluruh aktivitas kedutaan besarnya di Venezuela pada 2019. Kala itu, pada masa jabatan pertamanya, Trump mengakui tokoh oposisi Juan Guaido sebagai presiden dan menuding terpilihnya kembali Maduro pada 2018 sebagai tindakan yang tidak sah.
Kini, dengan kondisi Maduro yang tengah menanti persidangan di New York, jalur normalisasi hubungan mulai terbuka kembali, terlebih setelah Rodríguez menunjukkan nada bicara yang lebih rekonsiliatif pada Minggu malam. Selama kedutaan di Caracas ditutup, segala tanggung jawab diplomatik untuk Venezuela ditangani melalui Kedutaan Besar AS di negara tetangga, Kolombia.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio, yang sepanjang kariernya dikenal vokal mengkritik Maduro dan pendahulunya Hugo Chávez, kini memegang peran utama dalam kebijakan pemerintahan Trump terhadap Venezuela.
Pada hari Minggu, Rubio menyatakan bahwa AS menantikan langkah-langkah positif dari Rodríguez dalam memperbaiki hubungan bilateral secara keseluruhan.
“Kami akan melakukan penilaian berdasarkan apa yang mereka lakukan, bukan apa yang mereka katakan di depan publik untuk sementara ini,” tegas Rubio. Ia menambahkan bahwa fokus AS adalah pada “apa yang akan mereka lakukan ke depannya.”
Todd Robinson, pensiunan diplomat karier yang pernah memimpin kedutaan di Caracas, menilai pembukaan kembali kantor diplomatik tersebut akan memberikan ruang gerak bagi AS untuk berdialog langsung dengan para politisi hingga jajaran militer Venezuela yang berpengaruh.
“Kami bisa melakukannya melalui telepon, namun tidak ada yang bisa menggantikan proses membangun dan merajut kembali hubungan di lapangan—tidak hanya di Caracas, tapi juga di seluruh wilayah negara tersebut,” ujar Robinson.
Robinson sendiri sebelumnya pernah diusir oleh Maduro setelah AS dan banyak negara lain menolak mengakui hasil pemilu 2018. “Akan menjadi keuntungan besar jika kedutaan bisa dibuka kembali,” pungkasnya.
(bbn)






























