Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa AS akan lebih memperhatikan tindakan Rodríguez daripada retorikanya.
"Kami akan menilai apa yang mereka lakukan, bukan apa yang mereka katakan secara publik selama masa transisi, bukan apa yang kami ketahui, apa yang telah mereka lakukan di masa lalu dalam banyak kasus, tetapi apa yang mereka lakukan ke depannya," jelasnya dalam program CBS, Face the Nation, Minggu "Jadi kami akan memantaunya."
Trump memperingatkan akan adanya potensi gelombang kedua serangan AS jika kerja sama tersebut tidak terwujud.
"Semua tokoh politik dan militer di Venezuela harus memahami bahwa apa yang terjadi pada Maduro bisa terjadi pada mereka, dan hal itu akan terjadi pada mereka [jika mereka tidak "adil" pada rakyat Venezuela]," tegasnya.
Dalam jangka pendek—dan kecuali terjadi keruntuhan pemerintahan—langkah pemerintahan ini akan memberikan kesempatan untuk membantu menghidupkan kembali industri minyak Venezuela yang krisis, sesuatu yang tampaknya menjadi fokus utama Trump saat mengumumkan penangkapan Maduro.
"Kami akan mengirim perusahaan-perusahaan minyak AS yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, dan mulai menghasilkan uang bagi negara itu," kata Trump. Dalam konferensi pers yang sama, dia mengutarakan, "Kami akan memastikan negara itu dikelola dengan baik."
Setelah konferensi pers Trump, pejabat AS menguraikan beberapa prioritas untuk beberapa hari mendatang, mengatakan bahwa pejabat pemerintahan Trump akan terlibat secara diplomatik dengan pihak yang masih ada di pemerintahan Venezuela, serta dengan para eksekutif minyak untuk memperluas produksi.
Pejabat tersebut memaparkan militer AS akan tetap siap dan embargo minyak akan tetap berlaku. Serangan AS terhadap kapal-kapal yang diduga membawa narkoba akan terus dilanjutkan.
Namun, ketidakpastian mengenai apa yang sebenarnya akan terjadi selanjutnya membayangi Caracas, saat kota itu memasuki malam pertama tanpa Maduro dalam lebih dari satu dekade. Banyak pendukung setia rezimnya masih berada di negara tersebut.
Fakta tersebut, serta sejarah panjang Rodríguez dengan Maduro, adalah "alasan mengapa saya agak skeptis ini bisa berhasil dalam jangka panjang," kata Ryan Berg, direktur Program Amerika dan Kepala Inisiatif Masa Depan Venezuela di Pusat Studi Strategis dan Internasional, Washington.
Sepanjang hari, warga Venezuela mengantre di luar toko kelontong dan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di tengah kekhawatiran tentang masa depan negara mereka.
Meski Trump berusaha menampilkan optimisme, manuver militer tersebut mengingatkan pada upaya AS di masa lalu, menggulingkan rezim yang menciptakan hasil beragam. Saat ini, Partai Republik yang berhaluan keras tampaknya berpihak pada Trump, sedangkan pendukung yang lebih isolasionis menolak. Kekhawatiran utama adalah apakah AS akan terjebak dalam situasi ini.
"Kekhawatiran yang lebih besar sebenarnya adalah jika semua ini runtuh di sini, jika tidak ada upaya untuk memastikan adanya transisi yang sukses," kata Matt Terrill, mitra pengelola dari Firehouse Strategies.
Venezuela telah menderita selama beberapa dekade akibat pengelolaan buruk yang merusak infrastruktur minyak negara itu, memicu hiperinflasi yang berkepanjangan, dan menyebabkan jutaan imigran ekonomi dan politik melarikan diri ke negara tetangga dan AS. Keruntuhan total pemerintah akibat serangan AS dini hari berisiko menimbulkan kekacauan yang lebih besar.
— Dengan asistensi laporan dari Catherine Lucey, Eric Martin, dan Jamie Tarabay - Bloomberg News
(ros)




























