Logo Bloomberg Technoz

“Dengan hadirnya varian ini, COCO BALI RTD memperkuat posisinya sebagai brand inovatif yang mengangkat bahan-bahan lokal Indonesia ke level yang lebih modern, relevan, dan mendunia,” ujarnya dalam konferensi pers peluncuran di Bali, Sabtu (27/12/2025).

Bona menjelaskan bahwa dorongan utama pengembangan produk ini berasal dari perubahan pola konsumsi masyarakat urban. Urbanisasi yang pesat, peningkatan mobilitas, serta kesadaran akan gaya hidup sehat mendorong permintaan terhadap minuman yang praktis namun tetap memiliki nilai fungsional.

Menurutnya, konsumen saat ini semakin selektif dalam memilih produk minuman. Kandungan gula rendah, bahan alami, serta manfaat kesehatan menjadi faktor penting yang mempengaruhi keputusan pembelian. Hal inilah yang menjadi celah sekaligus peluang bagi COCO BALI untuk hadir dengan diferensiasi yang kuat.

Strategi Produk dan Ambisi Internasional

COCO BALI RTD diracik dari bahan-bahan alami dengan komposisi varian sparkling agave dan golden salak yang berbasis coconut kopyor. Keunikan produk ini terletak pada sumber bahan baku yang berasal dari perkebunan agave yang dikelola PT Lovina Beach Brewery Tbk di kawasan Nusa Penida, Bali. Pendekatan ini tidak hanya menjamin kualitas, tetapi juga memperkuat narasi lokal yang autentik.

Creative Director COCO BALI RTD, Natalia Sumasto Tjia, menegaskan bahwa setiap elemen dalam produk ini dirancang untuk membawa nuansa Bali ke dalam setiap tegukan. “Setiap bahan membawa Bali vibes, yang membawa daya tarik emosional dengan menghadirkan rasa tropis yang unik, sehat dan modern,” katanya.

COCO BALI RTD hadir dalam tiga varian utama, yakni Hard Seltzer, Sugar Cane, dan Zero Sugar non alcohol. Segmentasi produk ini secara khusus menyasar konsumen Gen Z, milenial muda, serta komunitas dengan gaya hidup aktif dan berorientasi pada wellness. Pendekatan ini dinilai relevan dengan tren global yang semakin mengutamakan kesehatan dan keseimbangan hidup.

Dari sisi distribusi, COCO BALI RTD tidak hanya mengandalkan ritel modern sebagai saluran utama. Brand ini juga menargetkan sektor hospitality seperti hotel, beach club, hingga travel retail. Kanal-kanal tersebut dipandang sebagai pintu masuk strategis untuk memperkenalkan produk kepada konsumen internasional yang berkunjung ke Bali.

Sementara itu, CLARISSA Liqueur diposisikan sebagai minuman beralkohol premium yang menyasar segmen perempuan. Produk ini juga berbasis coconut kopyor dan dikembangkan dengan pendekatan rasa yang lebih ringan serta elegan. CLARISSA dirancang untuk mengisi ceruk pasar yang selama ini belum banyak disentuh oleh produk lokal.

(Dok. COCO BALI PTE LTD)

Ekspansi global menjadi target utama dari peluncuran ketiga merek ini. Clarrisa dan Coco Bali telah disiapkan untuk masuk ke sejumlah pasar internasional seperti Tokyo, Singapura, China, dan Amerika Serikat. Langkah ini diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman dengan distributor global yang membuka akses distribusi lintas negara.

Di sisi lain, Libarron Whisky membawa cerita berbeda namun tetap berakar di Bali. Minuman Whisky asal Skotlandia ini menjadi yang pertama diproduksi di Bali dan berhasil mencatatkan prestasi dengan meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan atas kolaborasi unik Libarron dengan Museum Van Gogh melalui edisi terbatas bertema Starry Night.

Produk limited edition Libarron Whisky x Van Gogh Starry Night hanya diproduksi sebanyak 1.889 botol untuk pasar global. Keberhasilan ini mempertegas bahwa Bali tidak hanya mampu menjadi pusat pariwisata dunia, tetapi juga berpotensi menjadi basis produksi minuman premium berkelas internasional.

Dengan strategi produk yang tersegmentasi, narasi lokal yang kuat, serta jaringan distribusi global yang mulai terbentuk, COCO BALI dan dua merek lainnya menandai langkah penting industri minuman Indonesia menuju panggung dunia. Ambisi ini sekaligus menjadi bukti bahwa merek lokal mampu bersaing di pasar global dengan mengedepankan kualitas, inovasi, dan identitas budaya.

(tim)

No more pages