TotalEnergies sebelumnya menyatakan rencana memperluas bisnis kelistrikan di pasar deregulated utama seperti Eropa, Amerika Serikat, dan Brasil, serta di negara-negara produsen minyak dan gas tempat perusahaan sudah beroperasi.
Di sisi lain, perusahaan berencana meningkatkan eksposur di pasar energi terbarukan tertentu seperti India dan Afrika Selatan, sambil melepas aset non-inti di sektor tenaga surya dan angin di wilayah lain.
Perusahaan juga sempat menyebut kemungkinan mengurangi kepemilikan 19% sahamnya di Adani Green Energy Ltd. asal India, yang oleh CEO Patrick Pouyanné digambarkan sebagai “perusahaan yang sangat baik” dalam presentasi kepada investor pada September lalu.
Utang TotalEnergies menurun pada kuartal terakhir dan diperkirakan akan turun lebih jauh hingga akhir tahun seiring penyelesaian sejumlah divestasi. Beberapa penjualan yang telah dilakukan mencakup aset shale di Argentina serta proyek tenaga angin dan surya di Prancis.
TotalEnergies menargetkan tambahan divestasi senilai US$2 miliar pada kuartal ini, termasuk di Amerika Serikat, Norwegia, dan Nigeria. Pouyanné juga menyebut perusahaan tengah berdiskusi dengan dua calon pembeli untuk menjual lebih banyak aset di Nigeria pada tahun depan.
Di Asia, portofolio proyek energi terbarukan TotalEnergies mencakup ladang angin di Taiwan dan Korea Selatan, serta pembangkit listrik tenaga surya di Indonesia dan Australia.
Berdasarkan situs resmi perusahaan, total kapasitas proyek energi terbarukan di kawasan tersebut mencapai sekitar 23 gigawatt, termasuk proyek yang masih dalam tahap pembangunan.
Saham TotalEnergies telah turun sekitar 20% sejak puncaknya pada April 2024, namun masih mencatat kenaikan 4% sepanjang tahun ini. Nilai kapitalisasi pasar perusahaan saat ini mencapai €122 miliar atau sekitar US$141 miliar.
(bbn)
































