Data ketenagakerjaan non-pertanian (nonfarm payrolls) terbaru tertunda akibat penutupan pemerintahan, namun data sektor swasta yang dirilis awal pekan ini menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja.
“Pelemahan ini membuat peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember tetap terbuka, bahkan mungkin berlanjut hingga awal 2026,” kata Glen Smith, CIO di GDS Wealth Management. “Pasar tenaga kerja memang melunak, tapi belum cukup parah untuk menandakan resesi dalam waktu dekat.”
Laporan dari Challenger, Gray & Christmas Inc menunjukkan jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) yang diumumkan pada Oktober mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Penyebab utamanya adalah transformasi industri akibat kecerdasan buatan (AI) dan langkah efisiensi perusahaan.
Meski begitu, Jennifer Timmerman, analis strategi investasi senior di Wells Fargo Investment Institute, menilai gelombang PHK besar-besaran tersebut mungkin melebih-lebihkan kondisi sebenarnya.
“Secara keseluruhan, data yang tersedia masih konsisten dengan pandangan kami bahwa ekonomi akan kembali menguat pada 2026 setelah masa perlambatan di awal tahun depan,” kata Timmerman. “Kebijakan pemotongan pajak, stimulus moneter, dan deregulasi yang sudah direncanakan akan menjadi pendorong percepatan pertumbuhan ekonomi.”
Namun, Kevin Hassett, penasihat ekonomi Presiden Donald Trump, memperkirakan penutupan pemerintahan akan berdampak pada laju pertumbuhan PDB.
“Kami sebelumnya memperkirakan pertumbuhan kuartal keempat mencapai 3%, tapi kini kami menurunkannya menjadi sekitar separuh dari itu,” ujar Hassett dalam wawancara dengan Fox Business.
Kekhawatiran atas Valuasi Teknologi
Saham-saham teknologi mengalami tekanan sepanjang pekan, terutama emiten yang sebelumnya diuntungkan oleh euforia AI. Laporan keuangan Palantir Technologies Inc, Super Micro Computer Inc, dan Qualcomm Inc mengecewakan investor.
Sentimen pasar yang semula optimistis kini berubah menjadi skeptis, terutama terhadap perusahaan teknologi besar yang memimpin reli AI. Kekhawatiran muncul mengenai pembiayaan ambisi besar OpenAI, yang menjadi pusat dari tema investasi yang telah mengalirkan miliaran dolar ke pasar saham.
Awal pekan ini, manajer hedge fund Michael Burry mengungkapkan posisi bearish terhadap Palantir dan Nvidia Corp, yang memperdalam kekhawatiran soal valuasi berlebihan dan kemungkinan berakhirnya reli saham teknologi. Namun, menurut Smith dari GDS Wealth Management, situasi ini justru membuka peluang baru.
“Beberapa saham teknologi besar kini sedang ‘diskon’ dan menawarkan kesempatan bagi investor, terutama mereka yang belum sempat menikmati reli dua bulan terakhir,” katanya.
Saham Tesla Inc turun setelah pemegang saham menyetujui paket kompensasi senilai US$1 triliun untuk CEO Elon Musk — kompensasi terbesar yang pernah diberikan kepada seorang pemimpin perusahaan.
“Semua orang fokus pada besarnya angka itu dan apa artinya bagi Musk,” ujar Kyle Rodda, analis senior di Capital.com. “Namun bonus itu hanya akan cair jika ia mencapai target yang sangat ambisius, dan itu belum tentu tercapai.”
Di sisi lain, saham Take-Two Interactive anjlok setelah menunda perilisan gim Grand Theft Auto VI. Block Inc juga melemah setelah melaporkan pendapatan dan laba bersih yang tidak memenuhi ekspektasi.
CNH Industrial NV merosot setelah memangkas proyeksi kinerja, sementara kenaikan tarif baja dan aluminium AS sejak Agustus menekan bisnisnya. Sweetgreen Inc jatuh ke rekor terendah setelah memangkas proyeksi pendapatan tahunan dan mendapat penurunan peringkat dari William Blair. Sebaliknya, Monster Beverage Corp naik karena kinerja kuartal ketiganya melampaui ekspektasi analis.
(bbn)




























