Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri KTT Asia Tengah di Tajikistan bulan lalu, dan pemimpin China Xi Jinping mengunjungi Kazakhstan pada Juni untuk berunding dengan lima negara tersebut mengenai peningkatan investasi dalam program infrastruktur Belt and Road-nya.
Para pemimpin Uni Eropa menandatangani kemitraan strategis dengan negara-negara bekas Uni Soviet pada KTT Uni Eropa-Asia Tengah pertama di Uzbekistan April lalu. Kemitraan ini mencakup program investasi senilai €12 miliar (US$13,8 miliar) untuk jaringan transportasi, mineral kritis, dan energi.
Para pemimpin Asia Tengah berusaha mendiversifikasi hubungan ekonomi dan keamanan mereka, terutama sejak invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada 2022 memicu sanksi besar-besaran dari Barat terhadap Moskwa dan menimbulkan kekhawatiran akan potensi risiko bagi negara mereka.
Wakil Menteri Luar Negeri AS Christopher Landau mengunjungi dua ekonomi terbesar di kawasan itu—Kazakhstan dan Uzbekistan—menjelang KTT pekan ini.
Menurut pernyataan kantor pers Presiden Kazakhstan, Landau bertemu dengan Presiden Kassym-Jomart Tokayev di Astana untuk membahas "potensi kemitraan yang saling menguntungkan" di bidang energi, mineral kritis, transportasi, dan logistik.
Departemen Luar Negeri AS menyampaikan bahwa Landau mengadakan pertemuan dengan para pejabat Uzbekistan untuk membahas isu-isu ekonomi dan keamanan.
Upaya Washington untuk mendekati wilayah Jalur Sutra yang bersejarah semakin mendesak setelah China bulan lalu membatasi ekspor tanah jarang dan mineral kritis lainnya dalam perang dagang dengan AS, memicu persaingan untuk mencari sumber alternatif.
Beijing menangguhkan pembatasan tersebut setelah gencatan dagang disepakati dalam pembicaraan antara Trump dan Xi di Korea Selatan pada 30 Oktober lalu.
Namun, keterlibatan dengan Washington merupakan langkah penyeimbang bagi C5. Meningkatnya tekanan AS untuk mencegah pelanggaran sanksi akan menjadi masalah bagi kawasan ini. Pasalnya, Rusia tetap menjadi mitra keamanan utama, kekuatan ekonomi besar, dan tujuan bagi jutaan pekerja migran yang mencari uang untuk dikirim ke kampung halaman.
Pemerintahan Trump terlibat dalam pembicaraan agar perusahaan AS, Cove Capital LLC, memperoleh akses ke salah satu cadangan tungsten terbesar yang belum dieksploitasi di Kazakhstan. Secara terpisah, Cove Capital sepakat dengan Kementerian Industri Pertambangan Uzbekistan untuk melakukan "eksplorasi geologi di lokasi-lokasi prospektif."
Awal tahun ini, Uzbekistan Airways menyetujui pembelian jet Boeing 787 Dreamliner, pesanan terbesar dalam sejarah maskapai tersebut dan kesepakatan yang disebut-sebut Trump di media sosial bernilai lebih dari US$8 miliar. Kazakhstan menandatangani kesepakatan kereta api senilai US$4,2 miliar dengan Wabtec Corp yang berbasis di AS.
"Meski negara-negara di kawasan ini berupaya mengurangi pengaruh China dengan investasi Barat, ekspansi tak terelakkan China di kawasan ini dan tekad Rusia untuk menghalau kepentingan Barat masuk ke wilayahnya akan membatasi kemampuan AS dan Eropa untuk menjamin akses ke mineral kritis dan sumber daya lainnya di sana," kata Kate Mallinson, mitra PRISM Strategic Intelligence Ltd di London.
(bbn)


























