Logo Bloomberg Technoz

Dia mengatakan pembangunan proyek tersebut sempat mengalami kendala, mulanya dalam lahan tersebut terdapat tanah milik pihak lain seluas 2,3 ha dan sulit untuk dibebaskan agar dapat dibangun pabrik petrokimia.

Akan tetapi, Bahlil menyatakan pembebasan lahan tersebut akhirnya dapat diselesaikan melalui bantuan Satuan Tugas (Satgas) Hilirisasi.

“Namun juga dikendala dengan Covid. Covid menghantam kita dari 2020—2022, itu betul-betul Lotte punya komitmen yang sangat luar biasa,” ungkap dia.

Usai sempat terkendala gegara pandemi Covid-19, akhirnya pembangunan pabrik tersebut terus dilanjutkan hingga akhirnya berhasil dibangun sekitar 65% pada 2024.

Setelah itu, pembangunan pabrik petrokimia tersebut akhirnya kembali dipercepat dengan bantuan Satgas Hilirisasi yang dibentuk Prabowo.

“Ini kalau Bapak tidak panggil-panggil kami belum tentu selesai. Pak Rosan dua kali Pak, datang terus. Saya bilang Pak Rosan, kalau tidak datang tinjau saya lapor ke Presiden. Tetapi, paten juga sebagai Wakil Ketua Satgas ini Pak Rosan,” ucap Bahlil.

Lebih lanjut, Bahlil menyatakan Pabrik tersebut diklaim dapat menekan impor minyak dan gas (migas) Indonesia mencapai US$1,4 miliar atau sekitar Rp23,42 triliun (asumsi kurs Rp16.729).

Dia mengungkapkan pabrik petrokimia tersebut dapat menghasilkan produk hilirisasi migas senilai US$2 miliar per tahun atau sekitar Rp33,46 triliun.

Dari besaran tersebut, US$1,4 miliar diantaranya atau sekitar Rp23,42 triliun merupakan substitusi impor dan US$600 juta atau sekitar Rp10,04 triliun berkontribusi pada peningkatan ekspor Indonesia.

“Dari total kapasitas produksi 70% akan dipasarkan di dalam negeri, dan 30% di luar negeri. Jadi selama ini kita impor, dengan pabrik ini kita tidak lagi mengimpor secara besar-besaran seperti tahun sebelumnya,” ujar Bahlil.

“[Sebanyak] 70% subsidi impor dan 30% Impor, total jualannya per tahun US$2 milia, jadi US$1,4 disini sisanya kita ekspor,” ucap Bahlil.

Proyek besutan perusahaan asal Korea Selatan tersebut memiliki nilai investasi US$3,9 miliar atau sekitar Rp62,4 triliun.

Pabrik tersebut mampu mengolah bahan baku naphta sebesar 3.200 kilo ton per tahun (kTA), disertai tambahan gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG) sebesar 50% atau sekitar 1,2 juta sebagai bahan pendukung.

Dari bahan baku tersebut, naphta diolah menjadi produk hulu antara lain; ethylene sebesar 1.000 kTA, propylene sebesar 520 kTA, mixed C4 sebesar 320 kTA, pyrolysis gasoline sebesar 675 kTA, pyrolysis fuel oil sebesar 26 kTA, dan hydrogen sebesar 45 kTA.

Sedangkan produk hilirnya terdiri atas; high density polyethylene (HDPE) sebanyak 250 kTA, linear low density polyethylene (LLDPE) sebanyak 200 kTA, polypropylene (PP) sebanyak 350 kTA, butadiene sebanyak 140 kTA, raffinate sebanyak 180 kTA, serta benzene, toluene, dan xylene (BTX) dengan total kapasitas 400 kTA.

Produk-produk tersebut akan menjadi bahan baku pembuatan botol plastik, kabel, bumper mobil, peralatan medis, ban, karet sintetis, pembasmi serangga, dan cat.

Fasilitas ini mulai beroperasi secara komersial pada Oktober 2025 dan terintegrasi dengan pabrik polietilena (PE) berkapasitas 450.000 ton yang telah beroperasi sebelumnya.

(azr/wdh)

No more pages