Sejumlah saham mencatat kenaikan luar biasa dan menjadi top gainers. Di antaranya adalah saham PT Kedaung Indah Can Tbk (KICI) yang melejit 34,72%, saham PT Trimegah Karya Pratama Tbk (UVCR) dan saham PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) yang melesat 33,78% dan 25%, serta saham PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC) juga menguat 25%.
Sedang sejumlah saham yang melemah dan menjadi top losers di antaranya saham PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) yang ambles 14,97%, saham PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL) jatuh 14,72%, dan saham PT Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL) drop 14,4%.
IHSG menjadi yang teratas dari banyak indeks saham Asia yang juga menghijau sepanjang hari, menyusul KOSPI (Korea), Hang Seng (Hong Kong), KLCI (Malaysia), Shanghai Composite (China), Shenzhen Comp. (China), TW Weighted Index (Taiwan), Straits Times (Singapura), CSI 300 (China), dan SENSEX (India) yang berhasil menguat masing-masing 2,78%, 0,97%, 0,82%, 0,55%, 0,44%, 0,36%, 0,35%, 0,27%, dan 0,03%.
Jadi, IHSG adalah indeks dengan penguatan terbaik kedua di Asia. Hanya kalah dari KOSPI.
Salah satu sentimen yang berhasil mendorong laju IHSG adalah laporan kinerja neraca perdagangan Indonesia pada September 2025 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), neraca dagang berhasil mengalami surplus mencapai US$4,34 miliar. Artinya, neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 65 bulan berturut–turut sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Pudji Ismartini menyebutkan surplus neraca perdagangan lebih ditopang oleh komoditas nonmigas. Penyumbang surplus ialah komoditas lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral serta besi dan baja.
Pada September 2025, impor negara Indonesia mencatat kenaikan 7,17% year–on–year/yoy, setelah pada bulan sebelumnya minus hingga 6,56%. Pertumbuhan impor pada September menjadi yang tertinggi sejak April 2025 ketika impor melesat hingga 21,13% terpengaruh kebijakan tarif Trump yang mendorong aksi frontloading para importir.
Pada saat yang sama, ekspor Tanah Air tumbuh 11,41% pada September lalu, menjadi kinerja tertinggi sejak Februari 2025. Capaian kinerja ekspor pada September juga melampaui ekspektasi pasar yang memprediksi kenaikan sebesar 7,42%. Capaian itu juga lebih tinggi dibanding Agustus ketika ekspor tumbuh 5,78%.
Kemudian, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengumumkan data inflasi sepanjang Oktober 2025, hasilnya Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,28% secara bulanan (month–to–month/mtm) atau 2,86% secara tahunan.
Inflasi Oktober lebih tinggi dibanding September yang secara bulanan tercatat 0,21% dan inflasi tahunan 2,6%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Data BPS Pudji Ismartini mengatakan kelompok pengeluaran penyumbang inflasi terbesar adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya. Komoditas dominan selanjutnya adalah emas perhiasan.
Komoditas lain yang memberi andil inflasi adalah cabe merah, telur ayam ras, dan daging ayam ras.
(fad/aji)



























