Selanjutnya, Seda meneruskan studinya ke Muntilan, Jawa Tengah, di sekolah asrama yang didirikan oleh Frans van Lith. Memasuki usianya yang ke-24 tahun, Frans Seda melanjutkan studi ke Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi atau Katholieke Economische Hogeschool di Tillburg, Belanda. Hal ini menjadi bagian dari misi Gereja Katolik Flores yang berfokus pada bidang pendidikan dan ekonomi. Terlebih, saat itu, Flores belum merasakan program pembangunan yang dicanangkan pemerintah.
Setelah mengenyam pendidikan di Belanda, Frans Seda merintis berdirinya Universitas Katolik Atma Jaya. Universitas yang resmi berdiri pada 1 Juni 1960. Di tengah-tengah kesibukan merintis universitas tersebut, Frans Seda ditunjuk oleh Presiden ke-1 Soekarno menjabat sebagai Menteri Perkebunan (1964-1966) pada usia 38 tahun.
Pada masa awal pemerintahan Soeharto, Frans Seda ditunjuk sebagai Menteri Keuangan pada (1966-1968). Kala itu, Frans Seda langsung dihadapkan dengan situasi perekonomian negara yang mengalami kekacauan. Terlebih, inflasinya menyentuh angka 1.136,25%.
Saat menjabat sebagai Menteri Keuangan, Frans Seda mendaftarkan kembali Indonesia sebagai anggota Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) setelah inflasi besar-besaran tersebut. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan deregulasi dan liberalisasi pasar.
Frans Seda juga memegang prinsip "anggaran berimbang" untuk menyeimbangkan ekonomi Indonesia yang tengah terpuruk. Prinsip itu bertujuan agar pengeluaran dan pendapatan negara dibuat seimbang. Bila pendapatan terbilang jauh lebih sedikit daripada pengeluaran, maka defisit dapat ditanggulangi dengan pinjaman luar negeri.
Selepas menanggalkan jabatannya sebagai Menteri Keuangan, Frans Seda mendapat kepercayaan dari Soeharto sebagai Menteri Perhubungan dan Pariwisata sejak 1968 hingga 1973. Pada 1998, Frans Seda menjadi penasihat bidang ekonomi Presiden ke-3 B.J. Habibie dan tahun berikutnya menjadi penasehat Wakil Presiden ke-8 Megawati Soekarnoputri.
Frans Seda menghembuskan nafas terakhir pada usia ke-83 tahun pada 2009. Nama Frans Seda dikenang dan dijadikan sebagai nama bandar udara atau bandara, yakni Bandara Fransiskus Xaverius Seda (Frans Seda) Maumere. Bandara yang dulunya dikenal dengan nama Pelabuhan Udara Wai Oti ini terletak di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Bandar udara ini memiliki ukuran landasan pacu 2.250 x 45. Jarak dari pusat kota sekitar 5 kilometer (km).
(dov/frg)



























