Meski beban pokok penjualan meningkat 92,16% yoy menjadi Rp24 triliun, laba kotor perusahaan masih tumbuh 48,81% yoy menjadi Rp1,18 triliun. Dengan capaian tersebut, laba per saham HRTA naik dari Rp65,56 menjadi Rp125,02/saham.
Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga mencatat lonjakan kinerja signifikan. Emiten tambang milik negara ini meraih laba bersih Rp6,61 triliun hingga kuartal III-2025, naik 197% yoy dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp2,23 triliun.
Kinerja solid tersebut didukung oleh pendapatan dari penjualan komoditas emas, nikel, dan bauksit yang naik 67% yoy menjadi Rp72,03 triliun dari Rp43,20 triliun. Direktur Utama ANTM Achmad Ardianto menyebut, pertumbuhan laba ditopang oleh strategi hilirisasi berkelanjutan dan efisiensi operasional.
Dari total penjualan, segmen emas menjadi penopang utama dengan kontribusi sekitar 81% terhadap total penjualan perusahaan. Nilai penjualan emas mencapai Rp58,67 triliun, naik 64% YoY dari Rp35,70 triliun. Sementara pendapatan domestik ANTM berkontribusi 96% dari total penjualan bersih.
Di sisi lain, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) juga mencatat kinerja keuangan yang melesat tajam. Sepanjang sembilan bulan pertama 2025, Archi mengantongi laba bersih US$70,47 juta, naik 1.911,56% yoy dari rugi US$3,89 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan meningkat 52,67% yoy menjadi US$328,7 juta, sementara laba usaha melonjak ke US$138,34 juta dari US$26,5 juta. Lompatan kinerja tersebut memperlihatkan pemulihan signifikan setelah tekanan harga dan biaya pada tahun sebelumnya. Total aset ARCI naik menjadi US$953,18 juta dari US$865,39 juta, sedangkan ekuitas meningkat ke USD343,95 juta.
Adapun PT United Tractors Tbk (UNTR), melalui anak usahanya di sektor pertambangan emas, juga mencatat peningkatan signifikan di segmen tersebut. Dari total pendapatan bersih Rp100,5 triliun pada kuartal III-2025, segmen pertambangan emas dan mineral lainnya berkontribusi Rp10,3 triliun, tumbuh 53% yoy.
Kenaikan ini membantu mengimbangi penurunan pendapatan pada segmen kontraktor penambangan dan batu bara akibat curah hujan tinggi serta melemahnya harga batu bara global.
Secara keseluruhan, penguatan harga emas sepanjang 2025 menjadi katalis penting bagi kinerja emiten-emiten di sektor emas, mulai dari produsen perhiasan seperti Hartadinata Abadi, hingga perusahaan tambang besar seperti Aneka Tambang, Archi Indonesia, dan United Tractors.
























