Logo Bloomberg Technoz

Saham momentum seperti perusahaan komputasi kuantum dan nuklir mengalami tekanan tajam.

“Gelembung tampaknya mulai pecah di sektor kuantum, nuklir, dan sejumlah perusahaan tanpa laba setelah reli besar akibat spekulasi berlebihan,” ujar Bruce Cox, kepala Harrington Alpha Fund, yang memegang posisi jual di Rigetti Computing Inc (turun 9,9%) dan Oklo Inc (turun 14%).

Menurut Craig Johnson dari Piper Sandler, koreksi jangka pendek ini “sehat dan perlu” setelah reli panjang S&P 500 sejak April. Ia menambahkan, pasar saham sedang mengalami “pergerakan campuran” karena investor mencermati laporan laba di tengah penutupan sebagian aktivitas pemerintah AS yang membuat data ekonomi baru tidak tersedia.

Texas Instruments turun 5,6% — posisi terendah sejak awal Mei — setelah proyeksi laba yang lemah menambah kekhawatiran bahwa pemulihan industri semikonduktor masih tersendat.

Sementara itu, Capital One Financial Corp naik 1,5% setelah mencatat lonjakan laba kuartal ketiga dan mengumumkan rencana pembelian kembali saham hingga US$16 miliar. Sebaliknya, GE Vernova Inc turun 1,6% meski memperkirakan peningkatan permintaan turbin gas dari perusahaan teknologi besar yang membangun pusat data.

Alphabet Inc menjadi salah satu saham teknologi yang menguat, naik 0,5%, setelah laporan tentang pembicaraan kerja sama cloud antara Google dan startup kecerdasan buatan Anthropic. Permintaan AI yang kuat dianggap menjadi sinyal positif bagi prosesor Tensor Processing Unit (TPU) milik Alphabet.

Google juga mengumumkan keberhasilan uji algoritma pada cip “Willow” untuk komputasi kuantum, yang diklaim mampu mengungguli superkomputer konvensional — terobosan yang membuka jalan bagi penerapan teknologi ini dalam lima tahun ke depan.

Indeks perbankan KBW Bank Index turun 0,7%. Namun, laporan Evercore ISI mencatat kondisi kredit perbankan justru membaik.

“Data kredit aktual membaik, dan baik bank, manajer investasi alternatif, maupun Moody’s semuanya mengatakan mereka belum melihat tanda-tanda pembalikan siklus kredit,” tulis analis Glenn Schorr.

(bbn)

No more pages