Pembuat kebijakan memantau ketat ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia yang kembali memanas. Pekan ini, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengkritik pejabat tinggi perdagangan China, menuduhnya datang ke Washington tanpa diundang dan bersikap "gila."
Aktivitas ekonomi di kawasan Asia-Pasifik tetap tangguh meski menanggung beban tarif AS dan menghadapi ketidakpastian kebijakan yang tinggi. Namun, Srinivasan mengatakan IMF khawatir karena ketegangan perdagangan belum terselesaikan.
"Ketegangan besar masih sangat dominan," ujarnya.
IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Asia akan melambat menjadi 4,5% tahun ini, dari 4,6% pada 2024, meningkat 0,6 poin persentase dari prediksi April saat Presiden Donald Trump pertama kali mengumumkan tarif impor. Pertumbuhan diproyeksikan akan semakin melambat menjadi 4,1% tahun depan.
Dalam konferensi pers di Washington sebelumnya, Srinivasan menyoroti tiga faktor yang mendukung pertumbuhan Asia: ekspor yang kuat, ledakan teknologi, dan kebijakan makroekonomi yang lebih longgar didukung oleh kondisi keuangan yang menguntungkan.
Namun, ia memperingatkan bahwa risiko terhadap prospek tetap negatif, dengan catatan bahwa dampak tarif masih berkembang dan dapat meningkat. Begitu pula premi risiko dan suku bunga, terutama jika ketidakpastian kebijakan perdagangan atau ketegangan geopolitik meningkat.
(bbn)































