Investor Batal
Ditemui di lokasi yang sama, Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengklaim sempat mendengar kabar terdapat pihak swasta yang ingin membangun kilang di Indonesia.
Meskipun begitu, Laode tidak mengetahui secara persis mengapa niat tersebut tidak terealisasi. Dia juga enggan mengungkapkan identitas perusahaan swasta yang disebut sempat berminat membangun kilang di Tanah Air itu.
“Sebenarnya pembangunan kilang itu dari dulu sudah dicanangkan dan sekarang juga sudah banyak yang ingin membangun. Jadi tidak ada masalah sih dengan hal tersebut. Jadi kan ada tanda kutipnya mungkin di dalamnya kita belum tahu,” kata Laode.
Laode juga menegaskan Ditjen Migas membuka peluang bagi pihak swasta untuk membangun kilang di Indonesia. “Membuka. Dari dulu kita membuka opsi untuk kilang karena kan memang shortage [kekurangan],” tegas Laode.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan BU hilir migas swasta tengah mempertimbangkan untuk membangun kilang minyak di Indonesia.
Pertimbangan investasi penyulingan minyak itu disampaikan Bahlil selepas mengadakan rapat bersama dengan eksekutif perusahaan terkait dengan kelangkaan bensin di sejumlah jaringan SPBU swasta.
“[Pembangunan kilang] itu step kedua, saya yakin teman-teman pengusaha sudah mulai memikirkan untuk membangun kilang selain daripada Pertamina,” kata Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (19/9/2025).
Adapun, SPBU swasta yang turut hadir dalam rapat tersebut a.l. perwakilan dari Shell Indonesia, BP-AKR, Vivo, Exxon, serta AKR Corporindo.
Persoalan investasi kilang juga mendapat sorotan dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang merasa kesal akibat mandeknya investasi kilang baru oleh PT Pertamina (Persero).
Purbaya membeberkan Pertamina belum membangun kilang baru sejak krisis 1998 yang berakibat pada ikut naiknya belanja impor BBM setiap tahunnya.
Konsekuensinya, Pertamina mesti membeli BBM dari Singapura untuk menambal kebutuhan domestik yang terus meningkat.
“Sejak krisis sampai sekarang tidak ada kilang baru, kalau bapak ibu ketemu Danantara lagi, minta Pertamina bangun kilang baru,” kata Purbaya saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Selasa (30/9/2025).
Purbaya juga menyatakan Pertamina sempat berjanji membangun tujuh kilang baru dalam 5 tahun pada 2018.
Bahkan, dia membeberkan, sempat menawarkan Pertamina untuk bekerja sama dengan perusahaan China untuk membangun kilang di dalam negeri. Hanya saja, menurut dia, tawaran itu ditolak Pertamina karena merencanakan pembangunan 7 kilang baru tersebut.
“Pertamina bilang keberatan dengan usul tersebut karena sudah overkapasitas. Waktu itu saya kaget, 'overkapasitas apa?'” ujarnya.
Tak berselang lama, Bahlil mengaku enggan berkomentar lebih jauh mengenai pernyataan Purbaya. Hal yang terang, Bahlil memastikan Kementerian ESDM terus mengawal proses pembangunan kilang yang sedang dijalankan Pertamina.
"Saya tidak mau mengomentari pernyataan orang lain. Silakan ditanyakan kepada orang yang mengomentari. Tugas saya adalah bagaimana memastikan agar mengawasi teman-teman, dengan Pertamina untuk yang kilang-kilang lagi berjalan," kata Bahlil.
Saat ini Pertamina melalui PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) mengelola enam unit kilang, yaitu; refinery unit (RU) II Dumai dengan kapasitas 170 MBPOD, RU III Plaju berkapasitas 126 MBPOD, RU IV Cilacap berkapasitas 348 MBPOD, RU V Balikpapan berkapasitas 360 MBPOD, RU VI Balongan berkapasitas 150 MBPOD, dan RU VII Kasim berkapasitas 10 MBPOD.
Enam kilang eksisting Pertamina itu memiliki total kapasitas pengolahan mencapai 1 juta barel per hari.
(azr/wdh)



























