Logo Bloomberg Technoz

Dolar AS memang sedang berjaya. Kemarin, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,5% ke 98,596. 

Pagi ini, Dollar Index masih menghijau. Pada pukul 09:10 WIB, terjadi kenaikan 0,29% ke 98,878.

Dollar Index pun menuju kenaikan tiga hari beruntun.

DXY Menguat (Bloomberg)

Dinamika di AS menjadi fokus pelaku pasar. Investor sepertinya sedang mencerna ke mana arah kebijakan moneter di Negeri Adidaya.

Gubernur Bank Sentral AS (Federal Reserve) Minneapolis Neel Kashkari mengungkapkan bahwa pihaknya harus berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter. Sebab, penurunan suku bunga acuan yang terlalu drastis menimbulkan konsekuensi negatif. Salah satunya adalah inflasi, akibat ekonomi yang melaju terlalu kencang.

“Anda mungkin akan melihat inflasi tinggi di perekonomian. Jika Anda mencoba mendorong ekonomi lebih cepat dari pertumbuhan potensialnya, maka akan berakhir dengan kenaikan harga,” tegas Kashkari, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.

Bahkan Kashkari menggarisbawahi risiko stagflasi. Pertumbuhan ekonomi melambat, tetapi malah diiringi dengan inflasi tinggi.

“Beberapa data yang kami lihat mengirim sinyal stagflasi,” ungkapnya.

Pernyataan Kashkari menyiratkan bahwa The Fed mungkin tidak akan terlalu bernafsu dalam menurunkan suku bunga acuan. The Fed masih akan menggunakan pendekatan kehati-hatian, mempertimbangkan data yang ada (data dependent).

Saat suku bunga mungkin saja tidak turun terlalu agresif, maka berinvestasi di aset-aset berbasis dolar AS (terutama di instrumen berpendapatan tetap) masih akan menguntungkan. Ini menjadi sentimen positif bagi dolar AS sehingga mampu ‘menggilas’ mata uang Asia, termasuk rupiah.

(aji)

No more pages