Guswanto mengatakan BMKG telah memantau pergerakan Matmo sejak awal Oktober 2025, saat masih berada di Laut China Selatan yakni sekitar 1.650 kilometer di utara Kalimantan Utara.
“Walau bergerak menjauh dari wilayah Indonesia, kami tetap melakukan pemetaan risiko dan peringatan dini untuk memastikan keselamatan masyarakat," jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG memetakan risiko gelombang tinggi untuk pelayaran dan nelayan kecil, serta memperbarui peringatan dini potensi hujan lebat dan banjir di wilayah rawan seperti Jawa Barat, Bengkulu, dan Papua. Pemantauan intensif juga dilakukan terhadap bibit siklon baru serta gelombang atmosfer aktif seperti Rossby dan Kelvin di kawasan Indonesia.
“Cuaca ekstrem bisa muncul secara lokal akibat interaksi sistem global seperti Matmo dengan dinamika regional. Masyarakat kami imbau untuk terus memantau informasi resmi BMKG,” tutur Guswanto.
BMKG menegaskan bahwa situasi cuaca nasional masih terkendali, namun tetap dinamis. Oleh karena itu, masyarakat di wilayah pesisir dan rawan banjir diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi, angin kencang, dan hujan intensitas sedang hingga lebat dalam beberapa hari ke depan.
Badai Tropis Matmo awalnya terbentuk dari bibit siklon 93W di perairan barat Samudra Pasifik pada akhir September 2025. Sistem ini kemudian bergerak melintasi Filipina bagian utara, memperkuat curah hujan di wilayah Luzon, sebelum masuk ke Laut China Selatan. Setelah mencapai intensitas maksimum di wilayah tersebut, Matmo bergerak ke barat laut dan mendarat di utara Vietnam pada awal pekan ini, membawa hujan ekstrem dan angin kencang hingga 100 km per jam.
Saat mencapai daratan, sistem badai mulai melemah menjadi tekanan rendah aktif, namun masih cukup kuat untuk menyebabkan banjir di Hanoi dan sejumlah provinsi sekitarnya. Kondisi ini diperparah oleh musim transisi dan kelembapan udara tinggi di kawasan utara Vietnam, yang membuat intensitas hujan sulit menurun.
Badan Meteorologi Vietnam memperkirakan bahwa hingga akhir tahun ini, akan ada tiga badai tropis tambahan yang berpotensi melanda kawasan tersebut. Kondisi ini menunjukkan aktivitas atmosfer di Asia Tenggara tengah berada pada fase aktif, termasuk di sekitar Laut China Selatan dan Laut Natuna.
(dec/del)































