Kelompok ini akan kembali memproduksi lapisan produksi yang terhenti—total sekitar 1,65 juta barel per hari— setelah baru saja memulihkan produksi dalam jumlah lebih besar.
Meski harga relatif stabil terhadap pasokan yang ditambah sejauh ini, kini ada tanda-tanda bahwa pasar mulai bergeser. Kargo yang tidak terjual dari Timur Tengah menumpuk dan kurva forward berjangka menunjukkan tanda-tanda pelemahan jangka pendek.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan cadangan akan menumpuk dengan cepat pada kuartal ini dan rekor surplus akan muncul pada tahun 2026 seiring melemahnya permintaan global dan melonjaknya pasokan di Amerika.
Pada Jumat, Bloomberg melaporkan bahwa salah satu opsi adalah peningkatan sebesar 137.000 barel per hari. Opsi lainnya ialah dua atau bahkan tiga kali lipat jumlah tersebut.
Arab Saudi, yang menanggung porsi terbesar dari pembatasan produksi yang kini dicabut, memimpin kelompok ini dalam pergeseran strateginya untuk meningkatkan produksi guna merebut kembali pangsa pasar.
Keputusan pada Minggu ini juga diambil menjelang kunjungan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman ke Washington bulan depan untuk bertemu Presiden Donald Trump, yang berulang kali meminta harga minyak turun.
Para pejabat Arab Saudi dan Rusia belum mengomentari laporan ini.
Serangkaian peningkatan produksi juga menunjukkan kapasitas cadangan di seluruh aliansi OPEC+ yang sebenarnya terbatas.
Delapan anggota utama OPEC+ hanya memulihkan sekitar 60% dari alokasi pasokan 2,2 juta barel per hari yang dijadwalkan antara Mei dan September, sebagian karena beberapa negara sedang mengganti kelebihan produksi sebelumnya, tetapi juga menandakan bahwa beberapa anggota mungkin sudah memompa hampir sebanyak yang mereka bisa.
(bbn)




























