Logo Bloomberg Technoz

Laode berharap kesepakatan lanjutan bersama dengan operator SPBU swasta itu bisa dipegang pada rapat sore nanti.

"Ini kesepakatan tersebut saya akan dapatkan secara lengkap pada saat rapat nanti sore," jelasnya.

Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga membeberkan PT Vivo Energi Indonesia batal membeli base fuel sebesar 40.000 barel yang telah diimpor perseroan, sebab terdapat kandungan entanol 3,5% dalam BBM tanpa campuran aditif dan pewarna tersebut.

Petugas berjaga saat stok BBM kosong di SPBU VIVO Warung Buncit, Jakarta, Rabu (27/8/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Achmad Muchtasyar mengungkapkan, hingga Jumat (26/9/2025), sudah terdapat dua operator SPBU swasta yang sebenarnya berminat membeli base fuel yang telah diimpor perseroan, yakni Vivo dan BP-AKR.

Dalam perkembangannya, setelah melakukan negosiasi secara bisnis ke bisnis atau business to business (B2B), BP-AKR dan Vivo membatalkan untuk melanjutkan pembelian BBM tersebut sebab setelah dilakukan pengecekan terdapat kandungan etanol sebesar 3,5% dalam base fuel tersebut.

“Kontennya itu ada kandungan etanol. Nah, di mana secara regulasi itu diperkenankan. Kalau tidak salah sampai 20% etanol,” ucap Achmad dalam rapat dengar pendapat dengan operator SPBU swasta dan Dirjen Migas ESDM di DPR, Rabu (1/10/2025).

“Ini yang membuat kondisi teman-teman SPBU swasta untuk tidak melanjutkan pembelian karena ada konten etanol tersebut,” lanjut Achmad.

Lebih lanjut, Achmad menyatakan dalam waktu dekat ini akan terdapat kargo BBM kedua yang tiba di Tanah Air dan diharapkan memiliki spesifikasi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing operator SPBU swasta.

Nah, tetapi teman-teman SPBU swasta berkenan jika nanti pada kargo selanjutnya siap bernegosiasi kalau memang nanti kualitasnya,” tuturnya.

Dalam kaitan itu, Achmad mengungkapkan bahwa operator SPBU swasta membutuhkan total 1,2 juta barel base fuel dengan nilai oktan (RON) 98 dan 278.000 barel base fuel dengan nilai oktan 92.

“Lalu, komersialnya itu cost plus fee, jadi produk dan fee-fee lainnya. Lalu, mengenai term and condition payment-nya itu adalah cash before delivery,” tegas Achmad.

(prc/naw)

No more pages